Jumat, 22 Desember 2017

ORANG-ORANG PEMBERANI

Bali
Denny Siregar dan Pegiat Medsos
Wanita yang baju hitam di tengah itu namanya Jemima Mulyandari. Dialah yang menulis status pandangan mata tentang situasi saat Abdul Somad hendak ceramah di Bali. Tulisan dia sudah dishare ratusan kali.

Dia sekarang sedang dilaporkan oleh beberapa pengacara dengan dakwaan “melakukan persekusi”, padahal dia hanya nulis status pandangan mata saja.

Hebat juga dia, seorang wanita lemah lembut yang bisa mempersekusi banyak lelaki yang katanya gagah-gagah. Ini yang feminin sebenarnya siapa ya?

Saya tanya, “keluarga gimana? Takut mba dilaporkan?”. Dia ketawa, “suami saya malah mendorong saya untuk terus menulis dan jangan pernah takut melawan intimidasi mereka”.

Menakjubkan. Bahasa itu keluar dari seorang wanita, seorang ibu rumah tangga, yang resah dengan apa yang terjadi di tempat tinggalnya, Bali.

Yang paling kiri, seorang lelaki badannya besar dan berbaju merah, namanya Mocka Jadmika. Dia seorang muslim yang tinggal di Bali.

Dia termasuk salah seorang yang meminta AS untuk ikrar Pancasila dan mencium merah putih. Dia juga dilaporkan oleh banyak pengacara dan mendapat ancaman untuk dibunuh.

“Pengalaman pertama dilaporin, deg-deg-an juga..” katanya tertawa.
Saya bilang, “kalau sudah dilaporin berarti sudah hilang perjakanya. Welcome to the club. Tunggu nanti kalau sudah masuk level dilaporin 700 pengacara..”. Kami berdua ngakak mentertawakan situasi yang bagi sebagian orang menyeramkan, bagi kami itu hanyalah lelucon saja.

Tidak ada perjuangan yang mudah. Perjalanan yang menengangkan pada akhirnya akan menjadi mengasikkan ketika adrenalin sudah menjadi bagian dari kehidupan.

“Biar saja mereka melaporkan, toh dakwaan mereka lemah. Yang melaporkan tahu kok, bahwa dakwaan mereka lemah dan akan ditolak di kepolisian. Mereka melaporkan itu supaya menambah semangat kelompok mereka saja, lebih kepada membangun opini publik dengan intimidasi melalui laporan ke polisi.

Ntar juga ditolak karena tidak memenuhi pasal apapun..” Kata saya sambil ngopi-ngopi cantik.

“Sama seperti abang, aku juga pengen menjadikan hidupku berarti..” kata Jemima.

Ah, manusia dilahirkan di dunia ini sebenarnya tugasnya adalah berfungsi kepada manusia lain. Dan Jemima juga Mocka sudah mendapatkan arti dan fungsi untuk apa mereka di lahirkan di dunia ini..

Saya yakin, banyak Jemima-Jemima dan Mocka-Mocka lain yang belum muncul di permukaan, tapi sudah banyak berjuang untuk keutuhan bangsa ini baik melalui media sosial maupun di dunia nyata. Ada juga yang masih ragu, ada yang masih takut, banyak juga yang urat malunya sudah putus.

Kami semua dipertemukan oleh Facebook. Luar biasa, bagaimana ketika kita memanfaatkan media sosial dengan benar, kita akan dipertemukan dengan banyak orang hebat yang dulunya kita tidak kenal.

“Jangan ikuti gendang tarian mereka..” kata saya. “Gak perlu emosional, terus menulis, karena kita hanya menyampaikan apa yang harus kita sampaikan. Urusan diterima atau tidak, itu urusan mereka..”

Saya mengangkat secangkir kopi untuk orang-orang berani yang mulai muncul ke permukaan dan siap berjuang demi utuhnya keberagaman kita.

Kumpul di https NKRI Garis Keras

Seruputtt..