Jumat, 01 Desember 2017

PERMAINAN MIMPI

Penipuan
Scam Alert
Pernah diundang seminar MLM?

Pasti pernah. Dan apa kesamaan dalam sebuah seminar MLM apapun produknya?

Ya. Kisah sukses.


Kisah sukses diperlukan dalam membangun kepercayaan sebuah bisnis, terutama dalam bidang penjualan produk. Kisah sukses itu memotivasi dan mengangkat kepercayaan diri para penjual produk, seperti sukses orang yang lebih dulu menjual sebelumnya.

Kisah sukses ini berbeda dengan iklan. Jika iklan hanya menampilkan bagusnya produk, kisah sukses berbicara tentang bagusnya seseorang. Siapapun ingin sukses dalam hidupnya. Siapapun. Karena kesuksesan itu nikmat adanya.

Dan apa ukuran kisah sukses?

Jalan ke luar negeri. Mobil mewah. Apartemen atau rumah. Dan semua materi bling-bling yang membuat mata silau. Materi itu harus ada, karena sukses itu membutuhkan wujud.

Ini ilmu psikologi dasar. Dan sangat dipahami oleh para pemain bisnis kawakan, terutama mereka yang bermain skema Ponzi.


Kisah sukses itu bisa dimainkan oleh para pelaku penjual produk ataupun para pemilik produk. Biasanya kalau pemilik produk memamerkan kesuksesan dirinya, itu untuk membangun kepercayaan. Seperti kisah First Travel, yang pemiliknya harus terlihat kaya supaya orang percaya akan produknya.

“Masak orang kaya nipu?” Begitulah bangunan kepercayaan yang dibangun dibenak sehingga memunculkan keyakinan.

Pertanyaannya, bisakah kisah sukses itu dibuat meski dia sebenarnya belum sukses?

Sangat bisa. Sebagai contoh teman saya dulu terpaksa harus merogoh koceknya sendiri untuk jalan-jalan ke luar negeri dan meng-upload fotonya di medsos sambil berkomen, “Ini berkat jualan produk MLM. Ayo, kamu juga bisa. Sudah saatnya kamu sukses”.

Saya tahu, karena teman saya itu pinjam duit untuk keluar negeri ya dari saya, dengan janji akan dikembalikan berlipat nanti jika sudah sukses. Saya ya goblok kok percaya aja... Mungkin karena berharap teman saya bisa sesukses yang diharapkannya.

Dan dia sukses memang. Maksudnya, sukses mengajak orang yang ingin jalan-jalan ke luar negeri seperti dia. Orang yang sudah menjadi downline-nya dia, diajarkan untuk melakukan hal yang sama...

Kenapa dia begitu? Untuk mengembalikan investasi yang terlanjur dia masukkan. Dia harus bermain drama karena sudah terjebak dalam permainan drama besar. Namanya, permainan mimpi.


Sampai satu saat saya berusaha membangunkannya. “Bangun, itu hanya angan-anganmu saja. Ayo kita kerja beneran..”

Dan apa yang terjadi? Dia marah besar. Saya sudah merusak mimpinya dan mengguncang keyakinannya. Dia anggap saya tidak tahu apa-apa dan ketinggalan zaman. “Tunggu sekian tahun lagi, satu saat bisnis ini besar dan kamu akan menyesal”.

Saya pernah melihat bagaimana mengerikannya ketika mimpi itu mencengkeram seseorang. Dia terjebak dalam angan2nya. Dia sibuk dengan dunia indahnya. Dia berenang dalam lautan mimpinya.

Apakah tidak ada hasilnya? Saya yakin pasti ada. Tapi hasil itu sendiri tidak membuatnya beranjak keatas seperti yang diimpikannya. Buktinya, sampai sekarang dia belum kembalikan duit saya..

Dari situlah saya mendapat banyak pelajaran, bahwa angan2 adalah perampok terbesar dalam hidup kita. Keinginan- keinginan yang terus dipelihara dengan membuat ukuran berdasarkan “apa yang dilihatnya”, membuat seseorang seperti kecanduan narkoba.

Setahu saya hidupnya terus kekurangan, karena gaya hidupnya yang berlebihan. Pengeluarannya lebih besar dari pendapatan. Ia harus terus memamerkan kemewahan -dengan hutang kemana-mana- hanya untuk membangun kepercayaan orang lain bahwa dirinya sudah sukses.

Dengan itulah dia mendapatkan pendapatannya. Menjual mimpi kepada para pemimpi.

Seorang bijak pernah berkata, “Kekayaan terbesar manusia sejatinya adalah rasa cukup”.

Sayangnya, tidak banyak orang yang mempunyai rasa cukup dalam hatinya, karena kembali silau ketika orang lain memamerkan “kisah suksesnya”.


Sudah malam, ada kopi ada rokok tapi gak ada korek apinya. Ya, saya bermimpi saja sedang merokok, kan sama saja nikmatnya.