Senin, 18 Desember 2017

QUO VADIS, RIDWAN KAMIL?

Pilgub Jabar
Ridwan Kamil
Politik itu kejam..

Begitu kata orang. Kawan jadi lawan, lawan jadi kawan. Begitu juga yang terjadi pada Ridwan Kamil. Pasca penahanan Setya Novanto sebagai tersangka E-KTP, situasi tiba-tiba berubah drastis, terutama untuk RK yang sudah yakin mendapatkan tiket untuk menjadi Calon Gubernur Jabar.


RK awalnya didukung oleh Nasdem. Kemudian menyusul dukungan dari PKB dan PPP. Dengan dukungan tiga partai itu, RK sebenarnya sudah bisa mencalonkan diri menjadi Cagub Jabar, karena ia total mendapat dukungan 21 suara.

Tapi ternyata RK tidak cukup dengan itu...

Ia melobi Golkar untuk mendapat dukungan juga. Ini sebenarnya aneh, karena RK tidak perlu mengusik Golkar dimana disitu ada Kang Dedi Mulyadi.

RK sudah cukup suara, untuk apa lagi menambah-nambah suara?


Dan drama korea pun terjadilah..

Dedi Mulyadi tersingkir dengan menyakitkan. Ia ditendang dari partai yang ia turut membesarkannya. Sedangkan RK bertambah suaranya menjadi 38 suara, lebih dari cukup untuk mencalonkan diri.

Situasi Dedi Mulyadi yang tersakiti pun mendapat perhatian PDIP. PDIP terus mendekati Dedi Mulyadi, karena di Jabar PDIP memang tidak punya kader yang mumpuni utk menjadi Cagub.

Tapi rupanya RK belum puas dengan perolehan 38 kursi. Ia mendekati PDIP, berusaha menarik PDIP yang mempunyai 20 kursi di Jabar. RK berusaha mendapat rekor 58 kursi untuk menjadi Cagub Jabar. Menakjubkan...

Apakah itu menguntungkan bagi RK?

Saudara, ternyata itu langkah blunder. RK seperti orang kemaruk yang terus saja mengambil jatah makan orang lain. Yang terjadi, ia kekenyangan dan malah bingung sendiri, “Siapa yang layak jadi Cawagubku nanti?”.


Golkar yang punya 17 kursi di Jabar, mendesak RK untuk memilih Cagub dari partainya. PPP tidak mau kalah, RK harus memilih Cawagub dari partainya. Belum lagi PKB. Hanya Nasdem yang tenang-tenang saja, karena mereka hanya punya 5 kursi jadi tahu diri lah.

RK kelimpungan. Didesak sana sini, ia tidak kunjung mengambil keputusan. Gerbongnya terlalu besar. Semua ingin ambil bagian..

Dari sini sebenarnya kita bisa tahu kapasitas seorang Ridwan Kamil.

Ia ternyata tidak mampu mengambil keputusan cepat, tepat dan tegas. Terlalu banyak menimbang, merangkul, bingung sendiri apa yang harus dilakukan..

Yang terjadi adalah serangan balik yang mengagetkan..

Golkar berubah. Sesudah dipimpin oleh Airlangga Hartarto, Golkar mengambil keputusan cepat, menarik dukungannya karena merasa dipermainkan. “Wong kursi kita paling besar, kok enak aja kita ditimbang-timbang..” begitu kira-kira pikiran Golkar.

RK masih santai, karena ia hanya kehilangan 17 kursi dari Golkar. “Toh masih ada 21 kursi..” pikirnya.

Belum selesai, tidak berapa lama PPP pun mengoreksi dukungan. Wah, ini bahaya. Jika terjadi, RK tinggal punya 12 kursi dukungan, padahal minimal sebagai Cagub harus punya 20 kursi.

RK tidak berhitung dengan cermat, Pilkada Jabar ini berdekatan dengan Pilpres 2019. Dan Jabar pada tahun 2014 lalu, adalah lubang hitam kekalahan Jokowi-JK sebanyak 4,6 juta suara.

Jadi bisa dilihat bahwa Golkar dan PDIP harus bersatu untuk bisa merebut kembali Jabar. Dan ketika mereka bersatu, bisa jadi PPP dan Nasdem (atau mungkin PKB) ikut merapat bersamanya..

RK?? Say Goodbye...

Dari sini kita bisa mendapat pelajaran berarti bahwa kata “cukup” seharusnya bisa menjadi alarm dini. Terlalu berlebihan malah menjadi tak berfungsi. RK yang tadinya menjadi harapan, mendadak lunglai tak bertulang...

Ah, mungkin RK butuh secangkir kopi. Untuk bisa menenangkan diri dan berfikir kembali, bahwa ada yang harus diperbaiki. Popularitas bukanlah segalanya. Tapi kerendahan hatilah yang akan memenangkan pertarungan sejatinya. Seruput dulu, kang Ridwan Kamil. Semoga semua baik-baik saja..