Jumat, 01 Desember 2017

SALAM ATASMU, WAHAI RASUL ALLAH

Cinta Nabi
Salam Atasmu Wahai Rasulullah
Dalam perdebatan di grup-grup Muslim-Kristen dahulu, banyak saya baca pernyataan- pernyataan yang menyudutkan pribadi Nabi Muhammad SAW.

Hadis-hadis dikeluarkan sebagai “bukti” bahwa Rasulullah adalah seorang barbar, penyuka perang, tukang kawin, pedofilia dan banyak lagi hal yang menyeramkan yang menampilkan Nabi Muhammad sebagai monster daripada seorang manusia, apalagi seorang manusia suci.

Apakah mereka salah? Tidak. Mereka tidak salah. Hadis yang menyatakan seperti itu memang.

Kesalahan mereka adalah ketidak-pahaman tentang hadis.

Hadis adalah kumpulan riwayat berisi perkataan ataupun perbuatan Nabi Muhammad SAW. Dan perlu diketahui, hadis ini adalah cerita dari mulut ke mulut, diriwayatkan dari orang ke orang.

Perlu dipahami juga, hadis itu keluar sesudah ratusan tahun Rasulullah wafat dan dibukukan oleh para ulama dan ahli sejarah.

Karena itu hadis ada kategori atau derajatnya. Yang dikenal disini adalah derajat hadis shahih atau dipercaya, hadis hasan atau hadis yang tidak bertentangan dengan Alquran tapi informasinya kabur dan -terakhir- hadis dhaif atau informasi palsu.

Hadis bukan Alquran yang mutlak. Ia bisa di kritisi dari zaman ke zaman sesuai informasi baru yang didapat oleh para ulama.

Dan -ini yang penting- kodifikasi hadis keluar pada masa kekhalifahan bani Umayyah dan bani Abassiyah. Faktor yang perlu diperhitungkan disini adalah adanya hadis-hadis yang ditulis untuk kepentingan para penguasa.

Jadi menggunakan hadis sebagai bukti konkrit bahwa Nabi Muhammad adalah “monster”, sungguh tidak tepat.

Karena di sisi lain hadis juga menggambarkan bahwa Nabi Muhammad adalah “lebih dari seorang manusia”, terutama dari ahlak beliau yang jauh dari sifat-sifat kotor manusia.

Nabi Muhammad bukan Dr Jekyll and Mr Hyde yang pribadinya bisa bertentangan satu sama lain dalam satu tubuh.

Masalahnya, pribadi “aneh” Rasulullah Saw yang tertuang dalam hadis yang bertentangan dengan sifat beliau sebagai pribadi yang terpuji, banyak yang diyakini oleh umat Islam sendiri.

Sebagai contoh dulu ada yang bernama Syekh Puji yang meyakini bahwa menikahi anak di bawah umur adalah “contoh” dari Rasulullah..

Karena itu, para ulama yang “benar-benar ulama” selalu menyerukan, jika terdapat kabar pribadi Nabi Muhammad SAW yang bertentangan dengan sifat asli beliau, kembalilah pada Alquran.

Itulah petunjuk yang paling benar. Meskipun ternyata dalam menafsirkan satu ayat saja, banyak yang saling bertentangan. Contoh surat Almaidah 51 dengan berbagai penafsiran.

Saya selalu mengembalikan pribadi Rasulullah Saw kembali pada tempatnya. Dalam Alquran disebutkan beliau diturunkan untuk memperbaiki ahlak manusia, tidak mungkin beliau sendiri rusak ahlaknya. Itu bertentangan dengan logika..

Itulah kenapa Allah SWT selalu menyuruh hambaNya untuk berfikir dan menggunakan akalnya. Karena tanpa akal dan pemahaman yang mendalam, maka kita akan menjadi umat buih di lautan. Banyak tapi tidak berguna..

Salam atasmu, Ya Rasulullah. Salam atasmu yang jejaknya sudah banyak disamarkan dan dibalut dengan fitnah untuk menghancurkan dirimu dan umatmu.
Salam atasmu, wahai wahyu yang berjalan. Salam untukmu dan seluruh keluargamu yang terpilih dan rela berkorban..


Allahumma shalli ala Muhammad wa Aali Muhammad..