Rabu, 06 Desember 2017

SEMALAM DI ILC TV-ONE

Politik
ILC
Kebiasaan saya ketika berada pada situasi baru, selalu mencoba beradaptasi dengan situasi.

Begitu juga ketika di acara ILC. Meski sering berbicara di podium, model debat di ILC ini baru bagi saya. Newbie, kata orang.

Sebagai anak baru, tentu saya berusaha sopan dan -pasti- agak grogi. Apalagi ketika nama saya dipanggil untuk berbicara di awal-awal, materi yang sudah saya siapkan pun buyar semua. Saya hanya mengambil poin-poin saja untuk bicara.

Semenit dua menit, saya sudah bisa menguasai diri. Dan meluncurlah pernyataan- pernyataan untuk memancing reaksi.

Reaksi muncul dari FZ, yang lalu memainkan perang psikologis dengan kata “kurang intelektual”.

Lalu dengan gaya bahasa “intelektual” yang panjang dan melayang kemana-mana, bicaralah ia tentang konsep segala macam yang sebenarnya tidak menjawab pernyataan-pernyataan saya. Bahkan sudah keluar dari tema “perlukah reuni 212”?.

Oke, saya siap untuk pernyataan kedua, menyambung sekaligus mencoba mengarahkan obrolan panjang FZ tadi. Eh tapi sudah iklan. Baiklah, nanti ronde kedua.

Ronde demi ronde, saya pun tidak kebagian mike lagi untuk bicara. Semua narasumber bicara panjang lebar menumpahkan isi kepalanya, tanpa kontrol dari moderator. Panjang dan bahkan beberapa pembicaraan keluar dari tema.

“Ini sih bukan diskusi,” pikir saya. “Tapi presentasi” Masing-masing narasumber presentasi tentang apa yang ada di kepalanya, tanpa kontrol dari sang moderator yaitu Bang Karni Ilyas..

Disinilah saya melihat memang ada perbedaan ILC dulu yang saya sukai dan yang sekarang. Bang Karni tampak terlihat lelah untuk sekedar memotong pembicara dan melemparnya untuk memantik reaksi pembicara lain.

Semua dibiarkan ngomong ngalor ngidul tanpa jeda. Panjang dan membosankan. Jujur saya ngantuk banget, apalagi dengar Rocky Gerung bicara “bahasa langit” yang sama sekali gak menyentuh tema dan lebih sibuk dengan kehebatan dirinya.

Mungkin saya terlalu sopan, tidak merebut mike dan memaksa untuk bicara seperti Al Khotot yang dengan enaknya memotong pembicaraan saya.

Bang Karni tidak membangun kehangatan -apalagi panasnya diskusi dengan memainkan tek tok yang cantik supaya terjadi aksi dan reaksi yang menarik. Saya yang “mesinnya sudah mulai panas”, kembali dingin karena harus mendengarkan celotehan panjang dan ngawang.

Saya seperti kehilangan ILC diawal-awal kemunculannya yang greget. ILC menjadi seperti ajang curhat dan keluh kesah panjang daripada sebuah model diskusi yang menarik.

Ya sudahlah, setidaknya saya sudah memenuhi undangan untuk hadir meski lebih banyak menjadi penonton disana. Yang enak yang bicara terakhir-akhir dan mencoba mengambil kesimpulan dari materi-materi awal.

Mungkin saya harus merubah model bicara saya yang cenderung sopan dan menghindari debat kusir Mungkin saya harus menjadi model “pencari panggung” supaya terlihat sebagai sosok yang mendominasi pembicaraan..

Ah, tapi semua ngantuk saya selesai sesudah saya tanda-tangan amplop dari tvone.

Gak bisa tidur jadinya. Sambil ngopi saya menghitung lembaran-lembaran dari amplop.
“Dapet berapa, bang?”.
“7,5 juta...” Kata saya. Asal aja, wong mereka aja ngasal kok ngitung jumlah orang di Monas..Yang penting ada bahasa “juta”nya. Seruput dulu ahhhh.