Rabu, 06 Desember 2017

SEMALAM DI ILC TVONE 2

ILC TV One
Fadli Zon dan Denny Siregar
Satu hal yang saya pelajari di ILC tadi, adalah ternyata memang sulit sekali berdiskusi dengan baik dengan mereka.


Felix Siaw masih mending menjabarkan serangan-serangan bendera HTI dari Permadi Setya dengan kalem, meski harus berlindung dibalik ayat-ayat dulu di awal untuk menunjukkan “kemampuannya”.

Tetapi Fadli Zon -entah kesal dengan saya karena dulu pernah membalas puisinya- atau memang terbiasa bermain psywar di meja, menyerang langsung dengan kata “tidak intelektual”..

Seakan-akan apa yang saya sampaikan tidak seintelektual dirinya. Yang ketika saya dengarkan malah terlalu intelektual, sehingga saya sulit menangkap apa yang ia bicarakan.

Ditambah lagi Al khotot yang langsung menembak dengan kata “kurang informasi” dan malah ada kata bernada sedikit ancaman “jangan sampai nanti gak bisa pulang..” dalam membahas pernyataan saya tentang dana 4 Miliar yang tidak mereka akui, tetapi diakui oleh panitia pelaksana meski disamarkan dengan kata “dari umat dan Allah SWT”.

Apa yang saya pelajari disana?

Ada kecenderungan kelompok mereka menghantam lawan diskusi dengan nada-nada represif atau menekan dan meremehkan. Dengan begitu, mereka akan terlihat menang karena mengambil alih pembicaraan.

Meskipun jawaban mereka tidak menyentuh akar masalah, itu tidak penting. Yang penting retorika dengan gaya bahasa flamboyan yang rumit seperti FZ dan bahasa yang menekan seperti Al Khotot.

Saya sendiri menahan diri untuk tidak merebut mike dan terpancing dengan semua itu. Itulah kenapa saya banyak senyum-senym saja melihat mereka. Ditambah memang Bang Karni tidak memberikan kesempatan untuk mengomentari pernyataan mereka.

Ingin sekali berbuat tidak sopan dengan memotong pembicaaran, tapi saya tidak mampu. Saya terbiasa mendengar sebuah argumen, karena menurut saya, semua orang punya hak untuk berbicara.

Dan saya semakin senyum ketika ternyata Al Khotot dan Eggy Sujana rupanya tidak kompak. ES lebih jujur menyampaikan bahwa aksi 212 adalah gerakan politik, sedangkan Al Khotot masih sibuk membungkusnya dengan kata-kata perayaan Maulid.

Masih banyak yang ingin saya bahas sebenarnya seperti klaim “umat Islam” dan klaim “ulama” yang biasa mereka lontarkan.

Tapi waktu tidak berpihak, karena Bang Karni harus menggilir para narasumber yang sekian banyaknya supaya semua mendapat kesempatan bicara.

Yang lucu adalah orang-orang yang menganggap bahwa diskusi ILC itu adalah diskusi menang kalah. Harus ada yang menang dan harus ada yang kalah, buat mereka.

Penting sekali mereka untuk merasa menang, seperti pentingnya mereka untuk berbicara “juta” dalam aksi, untuk menaikkan kepercayaan diri mereka.

Pantas saja orang tua dulu bicara “Wong waras ngalah” itu lebih kepada sebuah nasihat, “kamu harus menjadi tidak waras untuk berdebat dengan mereka”.

Saya jadi paham, kenapa Imam Ali dulu menghindari debat dan lebih suka “menyampaikan”. Karena ia lebih nenyukai kelembutan dalam membagikan pesan daripada sibuk menerangkan sesuatu kepada mereka yang tidak mau paham.

Menarik lah ILC tadi sebagai pemanasan. Beradaptasi dulu dengan medan sebelum nanti bisa menguasainya dengan strategi yang tepat. Disana harus menjadi dominator, gak penting orang paham atau tidak apa yang dikatakan. Udah ah mau bobo dulu... Met malam.