Senin, 08 Januari 2018

Bahkan Superman Pun Bukan Manusia Sempurna

Kehidupan
Hikmah
Aku sempat kaget mendengarnya. Temanku yang selalu menjadi ukuran kesuksesan banyak orang, baik dari sisi pekerjaan maupun keluarga, memutuskan bercerai dengan istrinya.

“KENAPA?” Adalah pertanyaan terbesarnya.

Dan gosip-pun bertebaran layaknya biji jagung yang disebar. Semua orang mengukur-ngukur kekurangan dia sambil menyembunyikan kekurangan dirinya.

Mungkin ini memang waktu yang tepat untuk menyembunyikan cacat diri, ketika aib orang lain tampak ke permukaan.

Lama tidak bertemu temanku itu, kami tidak sengaja bertemu di warung kopi tempat kami berada disana, berdiskusi panjang sebelum kami sibuk dengan kegiatan duniawi.

Dia tersenyum padaku. Akupun menyapanya. Dan kami terlibat diskusi yang panjang tentang politik dan situasi ekonomi saat ini. Seperti waktu dulu saat kami tidak sesibuk sekarang.

“Kamu kok gak nanya kenapa aku cerai?” Tanyanya heran.

Aku memandangnya sambil tersenyum, “Memang kenapa? Cerai itu bukan perkara aneh seperti alien turun ke bumi. Dan urusanmu terhadap masalah pribadimu, bukan urusanku. Kita punya masalah masing-masing, biarkanlah itu tetap menjadi urusan masing-masing”.

Dia ketawa..

Begitulah cara kami bersahabat. Tanpa harus masuk ke dalam masalah pribadi. Baik dan buruknya hanya kami yang mengetahui. Kami sadar bahwa kami bukan manusia sempurna, hanya ada yang terbuka aibnya dan ada yang masih dijaga.

Kami sadar bahwa manusia itu hanya mengerjakan fungsi, bukan bertindak dengan menghakimi. Karena hakim itu bukan wilayah kami. Apa yang aku anggap baik, belum tentu baik buat dirinya. Dan begitu juga sebaliknya.

Dia dulu tidak pernah menghakimi kenapa ekonomiku jatuh, begitu juga aku tidak mempersoalkan kenapa rumah tangganya runtuh. Kami lebih baik berbicara hal-hal yang besar, dimana kami punya kesamaan pemikiran.

Semua manusia pasti diuji ketika ia mengambil sebuah keputusan. Belum tentu keputusan yang dianggap banyak orang tidak baik, adalah keputusan terburuknya buat masa depan. Manusia bukan Tuhan, dan jangan pernah berusaha menjadi diriNya, sebesar apapun keinginan.

Kami akhirnya berpisah dan saling berebut membayari kopi. Untuk masalah ini dia jauh lebih ahli, karena dia sudah membayar sebelum aku sadar diri.

Dalam perjalanan pulang aku merenung panjang. Betapa perjalanan hidup manusia itu penuh dengan tikungan-tikungan.

Di setiap tikungan selalu ada pesan yang terpampang lebar, “Ambillah pelajaran dari setiap peristiwa manusia, karena itu akan menjadi petunjukmu ketika kelak mengalami situasi serupa. Engkau tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di tikungan selanjutnya”.


Sore ini indah sekali. Seindah pelajaran yang kudapat dalam setiap pernik kehidupan.