Sabtu, 13 Januari 2018

BETAPA MAHALNYA SEBUAH AMANAH

Imam
Amanah
Waktu sedang berhenti di tempat istirahat sebuah jalan tol, saya sempatkan untuk shalat.

Sesudah ambil wudhu, seorang bapak rupanya sedang menunggu saya untuk shalat berjamaah. Dan -aduh- beliau menyuruh saya untuk menjadi Imam shalat.

Saya pun menolak dengan sopan dan meminta beliau untuk menjadi Imamnya, karena saya jelas lebih muda. Tapi si bapak malah lebih bersikeras meminta saya menjadi Imam. Akhirnya saya pun mengalah memimpin shalat..

Selesai shalat, iseng saja saya menyapa beliau sekaligus untuk menambah keakraban. Saya bertanya, “Seharusnya bapak tadi yang jadi Imam, saya kan lebih muda..”

Beliau dengan air muka bersih tersenyum kepada saya.

Dan dengan lembut berkata, “Saya tidak layak jadi pemimpin shalat, dek. Sangat berat menjadi pemimpin itu. Seorang Imam harus paham bahwa ia mengemban beban jamaah di belakangnya, bukan hanya dari sisi bagaimana gerakan shalat supaya benar, tapi juga dari sisi bahwa ia sudah mengukur dirinya sebagai orang yang sudah mampu berlaku adil...”

Tenggorokan saya tercekat. Tidak mampu berkata apa-apa, hanya bisa diam mendengarkan sang bapak bertutur dengan lembutnya..

“Saya merasa masih belum bisa adil, belum juga mampu menjadi tauladan. Jangankan kepada orang yang akan saya pimpin shalatnya, bahkan kepada keluarga saya sendiri saya masih merasa belum mampu menjadi kepala keluarga yang baik.

Karena itu, saya merasa menjadi munafik ketika belum mampu memimpin diri sendiri, sudah harus memimpin orang lain, apalagi dalam perjalanan menuju akhirat..”

Tercenung saya di warung kopi di sebelah mushalla memikirkan kata2 bapak itu tadi.

Baru terasa betapa beratnya seorang pemimpin itu, karena ia mengemban sebuah tanggung jawab. Baru terasa betapa mahalnya amanah itu, sebab tidak semua orang bisa mengalahkan dirinya sendiri dulu, memimpin dan mengendalikan nafsu duniawinya dulu, sebelum ia berfungsi memimpin orang lain.

Ah, tidak habis pikir rasanya ada seorang bapak yang -entah darimana- mengingatkan tentang kriteria seorang pemimpin dengan bahasa yang sangat sederhana dan dalam contoh sehari-hari yang dilakukan, yang banyak terlupa bahwa itu sebenarnya adalah sebuah pesan..

Dan ketika sedang menyeruput kopi, tanpa sengaja terlewat sebuah berita, tentang seorang calon pemimpin yang ingin membeli sebuah amanah dengan harga 300 miliar rupiah.

Buat dia itu sangat mahal. Meskipun saya tahu, ukuran dunia adalah ukuran termurah di mata Tuhan.

Sudah sore, kulanjutkan perjalanan mencari arti semua peristiwa dan berharap bertemu lagi dengan para pembawa pesan.