Selasa, 02 Januari 2018

BLOK MAHAKAM: “MARI BUNG, REBUT KEMBALI”

Minyak
Blok Makaham
“50 tahun dikuasai asing, blok Mahakam akhirnya dikuasai Pertamina”.

Begitu headline dari beberapa media, menyambut kembalinya blok Mahakam dalam penguasaan kita.


Blok Mahakam adalah sejarah panjang penguasaan sumber daya alam kita. Dilaporkan sebagai sebuah blok dengan cadangan minyak dan gas terbesar di Indonesia, sejak 1966 pengelolaan blok Mahakam dikuasai oleh asing. Tepatnya PT Total E&P Indonesia dan Inpex Corporation, gabungan dari perusahan Perancis dan Jepang.

Tahun 2008, PT Total & Inpex sudah mengajukan perpanjangan. Tapi pada saat itu belum dijawab.

Menariknya, pada tahun 2013, Kepala SKK Migas pada waktu itu Rudi Rubiandini, memberikan sinyal bahwa pengelolaan blok Mahakam tetap akan diberikan kepada asing dan baru setahap demi setahap akan dikuasai oleh Indonesia.


Kata Rudi, “Kuasai blok Mahakam tidak seperti membangun pabrik tahu”.

Lobi-lobi dilakukan oleh pemerintah Perancis kepada Jero Wacik, Menteri ESDM masa itu. Dan kasus ini berkembang sampai Jero Wacik dan Rudi Rubiandini dilaporkan karena terindikasi menerima suap dari kontrak perpanjangan blok Mahakam.

Para pejabat ESDM dan Migas waktu itu memang membodohi bangsa Indonesia dengan statement, “Kita belum mampu mengelola migas sebesar blok Mahakam”.

Jero Wacik dan Rudi pada akhirnya masuk penjara, karena masalah suap dan korupsi di kasus lainnya..


Pada masa pemerintahan Jokowi-lah, diputuskan bahwa pengelolaan blok Mahakam harus ada di tangan Pertamina. Sudirman Said, Menteri ESDM pada masa itu, sudah memutuskan bahwa pengelolaan blok Mahakam akan diserahkan sepenuhnya kepada Pertamina.

Sayangnya, keputusan SS tersebut tidak diimbangi dengan tindakan. Bahkan Energy Watch Indonesia menuding SS hanya mengulur waktu saja dan pada akhirnya pengelolaan blok Mahakam akan kembali pada asing.

SS akhirnya diganti dan Jokowi menunjuk Ignasius Jonan sebagai Menteri ESDM..

Di tangan Jonan, akhirnya Pertamina pun menguasai 100 persen saham pengelolaan blok Mahakam yang kontraknya berakhir tanggal 31 Desember 2017 itu.

Meski begitu, Jonan memberi kesempatan kedua pengelola asing lama untuk bisa ikut berpartisipasi mengelola blok Mahakam. Tapi syaratnya, mereka harus BELI saham pengelolaan sebesar maksimal 39 persen.

Dengan kepemilikan mayoritas, maka Pertamina sebagai perusahaan negara mulai 1 Januari 2018, menjadi pengelola penuh blok Mahakam.

Banyak yang meremehkan cadangan blok Mahakam yang dikabarkan tinggal untuk 15 tahun lagi itu. Tapi sebenarnya bukan masalah cadangan yang terpenting. Blok Mahakam adalah sebuah simbol Nasional - seperti halnya Freeport.

Dengan dikuasainya blok Mahakam, Indonesia kembali menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dan ini akan menaikkan semangat nasionalisme bangsa Indonesia, bahwa “Kita bisa !”

Dan blok Mahakam juga diharapkan sebagai ujian sekaligus tantangan untuk menaikkan nama Pertamina di mata Internasional jika mereka berhasil menekan biaya produksi jauh lebih besar daripada ketika dikelola asing..

Kepada Presiden Jokowi, Menteri ESDM Ignasius Jonan dan kepada putra-putra bangsa yang bangga akan identitas negerinya sendiri, sudah selayaknya kita memompa semangat dengan slogan “Mari Bung, rebut kembali !”.

Kita rebut kembali pengelolaan sumber daya alam kita dari tangan asing dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kesejahteraan rakyat Indonesia..

“Bocorrr, bocor, bocorrrr...” terdengar teriakan senyap yang semakin lama semakin menghilang ditelan gelap malam. Angkat secangkir kopi!