Sabtu, 06 Januari 2018

DUH, KANG DEDI MULYADI

Demul-Demiz
Dedi Mulyadi-Deddy Mizwar
“Politik itu bukan bagaimana cara memimpin saja, tapi bagaimana memenangkan pertarungan..”

Begitu kata Kang Dedi Mulyadi kepada saya.

“Bagaimana bisa memimpin nantinya, kalau dalam pemilihan saja kalah?” Ia terbahak.

Ciri khasnya keluar. Santai dan tanpa batas meskipun ia seorang Bupati. Dedi Mulyadi memang orang yang tidak jaim, terbuka dan suka merendah.

Meskipun begitu, ilmu politiknya bukan ilmu rendahan. Menjadi Bupati dua periode dan menjadi ketua DPD Golkar Jabar, bukan prestasi recehan. Ia orang yang sabar, membangun sesuatu bata demi bata. Ia bukan tipikal orang yang berfikir instan..

“Kenapa Deddy Mizwar?” Tanya saya kesal.

Dia ketawa lagi. Dia tahu saya awam dalam strategi politik, tapi dia juga tahu bahwa saya adalah pendengar yang baik.

“Terus ma siapa kalau bukan Demiz?” Kata dia. “Politik itu bukan masalah suka atau tidak suka, ini masalah bagaimana menempatkan bidak pada posisi yang tepat. Poltiik itu adalah papan catur raksasa..”

Saya berusaha memahami pemikiran dan strateginya.

“Di Jabar ini hanya ada tiga tokoh. RK, Demiz dan saya. Tidak ada lagi yang lainnya..” Jelasnya sambil melirik ke saya.

“Saya ini dalam survey selalu noner tiga, dibawah Demiz dan RK. Jadi kecerdikan pun harus ekstra..” Dia ketawa lagi.

“Pilkada Jabar bukan seperti Pilgub DKI. Di Jabar tidak ada dua putaran. Yang tinggi hasil pilihannya, dia langsung dipastikan sebagai pemenang. Catat itu..” Katanya tersenyum menang.

“Kalau saya yang sering dituding musyrik, penyembah patung dan segala macam itu maju sendiri, saya jelas kalah besar.

Apalagi kalau saya dipasangkan oleh PDIP dengan Anton Charliyan, mantan Kapolda Jabar yang juga diserang dengan tudingan pembina preman.

Si musrik dan si pembina preman di satu gerbong? Hancur minaaa..” Dia menyeruput kopinya.

“Karena itulah saya membutuhkan seseorang dengan nama bersih dan diterima oleh masyarakat sunda yang religius. Ya saya pilih Demiz. Kenapa ngga? Wong dulu Demiz juga yang menjadi penentu Aher menang..” Dedi Mulyadi ketawa terbahak.

Saya baru mulai memahami jalan pikirannya. Dia memang politikus ulung.

“Demiz lebih diterima oleh masyarakat sunda yang relijius daripada saya. Ya sudah, kita ikuti arus itu jangan dilawan dulu..

Malah lebih bagus dia jadi Cagub, semakin mudah jalan saya untuk merangkul orang Sunda. Mereka yang dulu termakan propaganda bahwa saya ini musrik, perlahan akan melihat bahwa saya tidak seperti itu.

Pelan-pelan ngajari orang, gak bisa langsung dihantam..” Dia menutup penjelasannya.

Ah, saya sudah bisa menangkap inti dari strateginya. Jadi malu ketika pikiran saya dalam politik masih garis lurus, sedangkan dia sudah mampu membuat belokan tajam sesuai dengan model politik itu sendiri..

“Lalu bagaimana dengan RK?” Tanya saya.

“Ya biarkan RK sama Anton Charliyan. Palingan dia cuma dimusuhi sama pendukungnya dulu karena berpasangan dengan pembina preman. Dia udah gak mau berpasangan sama orang musrik seperti saya..”

Dia ketawa terbahak. Saya ikutan ketawa jadinya.

“Dengan Demiz, peluang saya menang jauh lebih besar daripada jika tidak. Sebagai nomor bontot, harus kebih cerdik daripada si nomor satu..

Apalagi jadi Cawagub, seenggaknya saya punya peluang memimpin lebih lama daripada jika saya jadi Cagub..” Dia tersenyum.

Ah, waktu pulang sudah hampir tiba. Saya harus pamit, tapi ada satu pertanyaan yang harus saya lontarkan..

“Kang Demiz kan selalu berdoa, gak mengganggu kinerja nantinya?”

Demul dengan santai menjawab, “Biarkan Demiz berdoa, saya yang bekerja. Kan harus gitu, doa dulu baru bekerja. .” Saya pun ketawa ngakak. Bisa aja si akang ini..

Bruggg.. Tiba-tiba dunia terasa ambruk..

Ah, ternyata saya terjatuh dari sofa tempat saya tertidur. Mimpi pun buyar seketika. Meski begitu kenangan tadi manis, karena ternyata obrolan dalam mimpi tadi membekas di hati sampai saat ini..


Sambil mengambil secangkir kopi yang sudah dingin, ternyata hatiku tidak bisa berpaling dari seorang #DediMulyadi. Seruput dulu ah..