Senin, 15 Januari 2018

GUBERNUR ABANG BECAK

Kendaraan
Anies Baswedan
Saya dulu kerja di perusahaan besar..

Boss saya adalah orang yang tahu akan seperti apa perusahaan ini ke depan nantinya. Dia sudah menetapkan goal-goal yang akan dia buat bahkan sampai 5 tahun ke depan..

Dari goal itu, ia bisa menetapkan langkah apa yang harus kami mulai. Kami dibimbing setahap demi setahap untuk menuju goal besar dari semua rencana besar yang kami sepakati bersama..

Sayang, boss saya itu keburu ditugaskan di luar daerah, tapi ia sudah menitipkan pesan kepada kami untuk tetap melanjutkan tahapan sesuai rencana awal..

Masuklah boss baru...

Ia tampak bingung dengan apa yang harus ia kerjakan. Jangankan menentukan goal ke depan, program yang sudah ada saja ia bingung harus mulai darimana dan bagaimana..

Dan apa yang terjadi ? Ia terus mengutak-atik program lama dan mencari2 kesalahannya. Dengan penemuan yang ia anggap kesalahan itu, ia melaporkan ke kantor pusat. Kami di kantor tahu, ia hanya pengen dapat nama saja..

Lucunya lagi, boss baru ingin mengembalikan program lama yang sudah kadaluarsa dan sudah tidak sesuai dengan perkembangan zaman. Ibaratnya, orang sudah sibuk bermain di aplikasi, dia sibuk mengembalikan kantor supaya pakai mesin tik lagi..

Yang terjadi, kami di kantorpun terhambat. Harus memulai lagi dari awal, sehingga jangankan mau maju, program yang ada saja berantakan..

Dimana kesalahan besar si boss baru ?

Seorang pemimpin dalam sebuah perusahaan, bukan saja dituntut untuk mempunyai kemampuan memimpin pasukannya.

Seorang pemimpin juga dituntut untuk mempunyai visi ke depan sehingga ia mempunyai target dan tujuan mau dibawa kemana perusahaan ini nantinya..

Dan saya melihat tipikal boss baru saya dulu ini ada di Anies Baswedan..

Bingung dengan “apa yang harus dilakukan”, sehingga yang diperbuat hanya mencari kesalahan. Tim penasihat terlalu banyak, sehingga bingung karena terlalu banyak pendapat.

Saya belum pernah mendengar Anies berkata, “Jakarta akan seperti ini ke depan. Dan untuk menuju goal yang kita tentukan, kita harus memulai dari tahapan awal..”

Jakarta kehilangan VISI dan kehilangan seorang VISIONER. Sibuk berkutat dengan “apa yang salah” dan berdansa dengan isu-isu itu disana. Mencari simpati, karena hanya itu yang bisa dicari.

Coba bandingkan dengan Jokowi.

Salah satu programnya saja sangat Visioner. “Indonesia sekian tahun ke depan harus berdaulat di bidang pangan !”.

Dan ia lalu membangun infrastruktur pertanian seperti bendungan2, memberantas kartel pangan dan menyiapkan teknologi supaya ada pertemuan langsung antar penjual dan pembeli tanpa ada pihak tengah yang memonopoli..

Semua hal besar tercipta karena visi. Kita bisa terbang dengan pesawat besi karena visi. Kita bisa menikmati lampu terang juga karena ada visi..

Jakarta kehilangan waktu 5 tahun ke depan untuk maju. Jangan dulu dibandingkan dengan kota besar di negara maju, bahkan dengan kota besar di negara tetangga pun kita akan malu..

Sesudah pasar tanah abang tumpah lagi ke jalan, motor kembali menyemut di tengah kota, tiba2 muncul lagi ide mengaktifkan BECAK..

Disaat yang sama, kota besar lain di dunia sudah menyiapkan diri untuk mengaktifkan teknologi “face recognition” di setiap sudut memantau pergerakan ibukota..

Kita memang selalu ketinggalan. Tapi gak apalah, yang penting seiman. Cukup itu saja yang menjadi ukuran..

Seruputtt..