Sabtu, 06 Januari 2018

HABIB RIZIEK & KENCING ONTA

Kencing Unta
Unta Zaman Now
Tahun 2018 adalah tahun politik.

Ada 171 daerah yang serentak menyelenggarakan Pilkada. Dari 171 daerah itu, 17 diantaranya adalah Pemilihan Gubernur.

Dari angka itu, ada beberapa daerah yang menarik untuk diamati yaitu Pilgub Jabar, Jatim, Jateng dan Sumut. Kenapa? Karena di ke empat provinsi itulah tokoh2 nasional tersebar.

Di Jabar ada Ridwan Kamil, Dedi Mizwar dan Dedi Mulyadi. Di Jateng ada Ganjar Pranowo dan Sudirman Said. Di Jatim ada Khofifah, Syaifullah Yusuf dan Azwar Anas. Di Sumut ada Djarot dan mantan Pangkostrad Edy Rahmayadi.

Ke empat wilayah ini dilaporkan diwaspadai akan dimainkan isu politik. Itu dikarenakan ke empat daerah itulah yang jumlah pemilihnya terbanyak dari seluruh daerah di Indonesia.

Jabar masih menduduki peringkat terbanyak, 30 juta pemilih tetap. Jatim nomer dua dengan 29 juta, Jateng 26 juta dan Sumut 9 juta.

Pilkada 2018 ini juga menjadi ajang perebutan wilayah menuju Pilpres 2019. Gerindra-PKS-PAN sudah menyatakan sepakat menjadi koalisi permanen di Pilkada 2018 dan Pilpres tahun depan.

Sedangkan PDIP-Golkar-Nasdem dan koalisinya kemungkinan besar akan menjadi lawan mereka. Hanya Demokrat yang selalu melihat kemana arah angin akan bertiup kencang, kesanalah mereka melangkah.

Dan jika melihat gelagat, Demokrat kemungkinan besar akan bersama koalisi PDIP, apalagi tersebar prediksi bahwa Chairul Tanjung dikabarkan akan dicalonkan menjadi Cawapres Jokowi dan AHY calon Menteri Olahraga.

Daerah yang paling rawan rusuh masih tetap Jabar, karena isu SARA masih sangat rentan disini. Untuk membendung isu itu, kekuatan dipecah antara Golkar (Demul) yang menggandeng Demokrat (Demiz) dan RK (PDIP).

Di Jatim juga begitu. Gus Ipul didukung PDIP-PKB dan Khofiffah didukung Demokrat.

Ini menutup celah koalisi Gerindra yang berencana memecah kedua calon itu dengan menaikkan calon lain dari kantong yang sama -NU- yaitu Yenni Wahid dan Mahfud MD.

Sayangnya mereka berdua menolak dibenturkan dengan kedua saudara mereka di NU, oleh koalisi Gerindra-PKS.

Jateng masih belum muncul isu dan peta kekuatan. Sempat muncul isu mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo akan jadi salah satu Cagub, tapi kayaknya gak mungkin. Isu itu dibangun sebenarnya untuk mengangkat nama Gatot supaya surveynya naik di Pilpres nanti.

Sumatera Utara juga menjadi menarik ketika Djarot Syaiful Hidayat berangkat jadi Cagub. Lawannya terberatnya adalah mantan Pangkostrad Edy Rahmayadi yang memainkan isu “putra daerah”.

Lalu bagaimana dengan Anies Sandi?

Anies sedang sibuk mempersiapkan diri untuk Pilpres nanti. Ia ingin seperti Jokowi yang cuman berapa bulan menjabat trus jadi Presiden. Karena itu ia rela mengaduk-aduk lumpur dengan tangan sendiri meski ia bisa minimal pake sekop atau pake excavator. “Tapi kan kurang dramatis”.

Sedangkan Sandi dengan bangganya promo bahwa sekarang kemacetan di tanah abang turun drastis sampai lebih dari 50 persen. “Iyalah, wong jalannya di tutup. Coba lihat daerah sekitar tanah abang, niscaya kemacetan nambah 150 persen.”

Dan berita lain, Jonru “sunyi sepi sendiri sejak ditinggal pergi” oleh kuasa hukumnya sedangkan Bachtiar Nasir lagi kecanduan kencing onta..

KENCING ONTA????

“Iya lah, micin sekarang gak popular lagi. Kencing onta ada pait-paitnya, apalagi kalau dicampur kencing penjualnya”.

Sekian pengamatan Pilkada 2018 yang diselingi berita “cuk & matamu picek” ala Sugik si Abi purun penyuka jemblem.

Sedangkan Denny Siregar masih ngopi dan terus diserang gegara tampilan ILC oleh bani micin gagal move on yang komennya itu-itu aja sejak Prabowo gagal naik kuda.

Sekian dan terimakasih.
NB: Habib Rijik belum pulang juga?? MasyaAllah, lamanyaaaaa...
——————————————-
“Den, den.. antara judul ma isi kok rada-rada gak nyambung ya??”
“Nyambung tuh. Yang penting isinya ada habib rijik ma kencing onta kan? kan??”
“MATAMU PICEK!!!”