Rabu, 17 Januari 2018

INDONESIA BUKAN JAKARTA SAJA

Kebijakan
Anies Naik Becak
Saya sebenarnya sudah males bahas Jakarta dan kebijakan-kebijakannya yang konyol itu.

Karena Indonesia ini jauh lebih luas dari Jakarta. Sudah tidak ada lagi hal menarik yang berisi program kejutan untuk Jakarta. Yang ada hanya mengorek-ngorek kebijakan lama dan dipakai untuk meninggikan dirinya.

Mudah sebenarnya melihat kualitas seseorang apakah dia pemimpin atau bukan.

Seorang pemimpin dikenal dengan gagasan-gagasan ke depannya, program-program yang terkadang harus out of the box untuk kepentingan wilayahnya.

Seperti contoh di Surabaya misalnya..

Bu Tri Rismarini bukan hanya membangun taman-teman kota dengan semua fasilitasnya untuk kebutuhan masyarakat, karena dulu taman kota tidak dirawat. Ia juga menolak menerapkan tol tengah kota karena menurutnya itu tidak menyelesaikan masalah hanya membebani warga saja.

Ia malah melebarkan jalan di pinggir-pinggir jalan utama dengan konsep frontage road. Karyanya ini memecahkan masalah kemacetan di jalan utama Surabaya dan menjadi salah satu karya agungnya yang berfungsi bagi warganya..

Ia juga membubarkan komplek pelacura terbesar se Asia Tenggara Dolly dan menjadikannya pusat bisnis. Itulah yang membuat pemikiran-pemikiran dia selalu diterima warganya.

Bu Risma tidak perlu mencari simpati hanya karena butuh suara untuk memilih dirinya kembali. Urusannya hanya kerja demi kemajuan kotanya. Kalau dia mau cari simpati, ngapain juga dibubarin Dolly karena disana ada ribuan suara yang pasti akan mencoblosnya asal tidak diganggu kegiatan mereka.

Begitulah seorang pemimpin itu, visioner dan tahu apa yang dilakukannya, tahu bagaimana tahapannya dan tahu akan kemana arahnya.

Bu Risma tidak pernah mengutak-atik apalagi menyalah-nyalahkan Walikota lama. Seandainya mau, ia bisa. Tapi tidak, ia hanya merapihkan dan membuatnya lebih bagus lagi.

Memang hanya orang yang gak bisa kerja yang bermain di isu dengan mengangkat-angkat nama besar supaya namanya bisa ikut besar juga. Orang yang model beginian sebenarnya gak paham, apa yang mau dia lakukan dan bagaimana selain menari di atas isu murahan.

Jadi, tidak perlulah terlalu fokus ke Jakarta. Lebih baik tinggalkan karena kebijkan konyol dan bodoh tidak meninggalkan ilmu apa-apa.

Memang lucu, tapi buat dia itu penting bagi pendukungnya karena yang mendukung suka hal-hal konyol gitu. Coba tanya, “bagaimana visi anda untuk Jakarta ke depan??”, Jawabannya pasti akkk ekkk akk trus ada bi narti bi nartinya.

Jakarta biarlah mau jadi Jakarta. Sindir aja gak perlu bahas orangnya. Karena dia butuh dirinya di bahas hanya untuk menunjukkan dirinya ada. Dan semakin dia bertentangan dengan orang yang berbeda, pendukungnya akan semakin memujanya..

Mari kita berfikir tentang INDONESIA.

Negeri yang luas dengan segala macam kontroversinya. Biarkan isu lokal menari disana, jangan malah kita menjadikannya nasional. Mau dia jungkir balik dengan kebijakannya seharusnya apa kita perdulinya?.

Melihat kebodohan dengan terus membahasnya membuat kita tidak pintar-pintar juga. Malah kita terjebak dalam kotak sempit itu saja.

Kita butuh penikiran tentang siapa pemimpin bagus dengan kebijkan bagus pula. Pemimpin bodoh itu gada habisnya.

Tunggu aja, lama-lama doi juga bingung sendiri. “Mau ngapain lagi ya? Ah, bagaimana kalau bikin BUMD khusus untuk memproduksi kencing onta? Tentu masyarakat Jakarta akan semakin bahagia, karena kencing onta akan menambah vitalitas bagi mereka yang menarik becak”.

Jakarta oh Jakarta, mimpin kota segitu aja kacau gitu kok diisukan mau mimpin Indonesia.. Apa kata Ustad Sugik Jemblem purun nanti?
“Jancuk!! Jaran kepang!! Lapo jenengku kon sebut-sebut maneh??”. Seruput ahhh..