Sabtu, 06 Januari 2018

JAWA BARAT, MENGAMANKAN JOKOWI

Ormas
Pilgub Jabar
Banyak orang yang kuciwa ketika Kang Dedi Mulyadi berpasangan dengan Dedy Mizwar. Apalagi ketika terdengar kabar santer bahwa Demul malah menjadi Cawagubnya. Tambah kuciwa. Termasuk saya. Awalnya.

Pada awalnya saya sulit memahami strategi ini. “Bagaimana bisa?” Keluh saya. Sejak awal saya sudah bertentangan dengan Dedi Mizwar yang ada badaknya. Buat saya, Demiz lebih baik menjadi artis sinetron saja daripada jadi birokrat, apalagi jadi politisi. “Gada cocok-cocoknya”.

Tapi tidak banyak orang yang memahami betapa sulitnya menjadi seorang “Dedi Mulyadi” di Jawa Barat, provinsi yang agamis, dengan masyarakatnya relijius, sekaligus provinsi dengan tingkat intoleransi tertinggi.

Jejak Dedi Mulyadi dalam membentuk Kabupaten Purwakarta sudah jelas. Dia musuh FPI no satu disana.

Tudingan “musrik, penyembah patung, penganut kepercayaan” adalah makanan dia sehari-hari. Pembunuhan karakter kepada dia datang bertubi-tubi.

Dedi Mulyadi bukan seorang dengan tipikal Ahok, yang menghajar lawan dengan model “full body contact” dengan resiko kekalahan yang sangat besar. Jika dia kalah dalam pilkada, dia malah gak bisa berbuat apa-apa untuk tanah kelahirannya.

Dedi Mulyadi punya tipikal bertarung seperti Jokowi. Ia harus menari dan memutar dulu untuk mengelabui lawan, sebelum menghantamnya dari sisi yang tak terduga..

Memang langkah seperti Dedi Mulyadi dan Jokowi ini banyak disalah-pahami oleh mereka yang cenderung melihat politik itu seperti garis lurus.

“Kalau dia gak begini, ya gua kecewa berat..” begitu kata bukan pelaku politik, seakan semua harus seperti keinginannya..

Untuk maju dengan semua isu dan propaganda negatif yang melekat di badannya, Dedi Mulyadi harus mengambil jalan putar.

Dan jalan putar yang terbaik adalah ketika ia merangkul Dedi Mizwar, yang dibuang oleh PKS.

Dedi Mizwar biar bagaimanapun tidak bisa diabaikan bahwa hasil surveynya tinggi nomer kedua sesudah RK. Ini masih berhubungan dengan kultur masyarakat Jabar yang relijius dan agamis. Dan Demiz pandai memainkan peran itu dengan selalu berdoa dan berdoa saja..

Dedi Mizwar bukan orang ideologis seperti HTI dan PKS. Dia hanya membutuhkan panggung besar untuk memainkan perannya.

Dan perlu diingat, kemenangan Aher dalam pilkada periode lalu, juga berkat “nama artis” Dedi Mizwar. Masyarakat Jabar - terutama yang dipedesaan - masih suka dengan gemerlap artis, mungkin karena itu banyak artis muncul dari sana..

Inilah yang ditangkap oleh Dedi Mulyadi..

Berpasangan dengan Dedi Mizwar, akan meredam semua propaganda negatif yang melekat di badannya.

“Kenapa tidak berpasangan dengan RK saja?”, Tanya seorang teman.

RK sejak awal sudah menolak berpasangan dengan Dedi Mulyadi, bahkan ingin “menyepaknya” dari pertarungan. Mungkin RK takut propaganda negatif Dedi Mulyadi menurunkan kecantikannya..

Jadi yang paling cocok dan mau menerima ya Dedi Mizwar. Si nomer dua dan nomer tiga dalam hasil survey, menyatukan suaranya.

Posisi Cawagub bagi Dedi Mulyadi malah menguntungkan dirinya daripada membuatnya rugi. Para pemilih akan melihat Dedi Mizwar daripada seorang Dedi Mulyadi. Sedangkan pemilih Dedi Mulyadi yang militan akan tetap memilihnya..

Dan Dedi Mizwar adalah sosok yang tepat bagi Dedi Mulyadi..

Demiz bukan orang yang bisa bekerja dalam iklim birokrasi. Ia seorang entertainer sejati. Dan perannya dalam banyak sinetron selalu sebagai “orang baik dan agamis”. Disitulah peran utamanya..

Sedangkan pekerjaan akan diambil alih banyak oleh Dedi Mulyadi yang memang seorang birokrat, politikus dan pekerja sejati. “Biar Demiz yang berdoa, saya yang bekerja..” Katanya pada waktu itu.

Dan yang perlu diketahui, Pilkada Jabar bukan seperti Pilgub DKI yang bermain dua putaran jika para calon tidak memenuhi 50 persen plus satu.

Di Pilkada Jabar -dan pilkada di hampir semua tempat di Indonesia- berapa banyakpun calonnya, yang hasil pemilihan tertinggi dia langsung menjadi pemenang.

Jadi untuk menentukan “siapa”, kita harus menentukan dulu “apa” dan “bagaimana”.

Lagian dengan semakin banyak calon akan semakin baik, karena kalau hanya dua calon saja di Jabar, yang terjadi akan seperti Pilgub DKI, bisa saja yang nasionalis akan kalah lagi..

Pada intinya, RK dan Dedi Mulyadi membagi dua kekuatan. Dan kedua kekuatan ini ujungnya akan sama, membela Jokowi di Pilpres 2019 nanti. RK - dengan posisi calon independennya - akan mengikuti strategi PDIP di 2019 nanti.

Dedi Mulyadi sudah pasti mendukung Jokowi sesuai amanat partainya. “Mengamankan Jawa Barat” adalah kata kuncinya. Karena di tahun 2014 lalu, Jokowi kalah 4 juta suara disana. Ini strategi membelah suara.

Siapapun yang terpilih nanti, entah Dedi Mulyadi ataupun RK nantinya, yang pasti 2019 mottonya masih sama, “lihatlah siapa yang didukung PKS dan pilihlah lawannya”.


Pilgub Jabar dengan semua gerakan akrobatiknya, dibangun untuk mengamankan Jawa Barat supaya bisa menjadi milik JOKOWI di Pilpres 2019 nanti. Kalau paham, mari kita seruput kopi.