Selasa, 16 Januari 2018

JOKOWI & ULAMA YANG BENAR

Habib Lutfi bin Yahya
Presiden Jokowi dan Habib Lutfi bin Yahya
“Jokowi, stop kriminalisasi ulama!”.

Begitulah propanda yang mereka bangun ketika banyak “para pengaku ulama” yang terjerat kasus - mulai dari fitnah ada PKI di istana sampai orasi provokatif yang menggelisahkan massa..

Sejak pemerintah membubarkan HTI melalui Perppu Ormas, fitnah kepada Jokowi semakin massif. HTI berlindung dibalik label “Islam” dan “ulama” untuk menyerang Jokowi. Ustad-ustad mereka menyebar dan masuk melalui ormas2 Islam di negeri ini yang seideologi.

Framing dibangun di masjid-masjid, di majelis-majelis bahwa pemerintahan Jokowi dikelilingi banyak orang PKI. Dan framing itu membentuk sebuah gambar besar bahwa yang bisa melawannya adalah “umat muslim” - muslim versi mereka.

Karena itulah banyak orang awam yang membenci Jokowi tanpa tahu alasan sebenarnya. Apapun yang dilakukan Jokowi salah, “wong dia PKI dan PKI musuh Islam..” begitulah bangunan propaganda yang merasuk dan merusak otak mereka.

Buat saya yang menarik adalah cara Jokowi melawan semua propaganda itu..

Ia tidak asyik memainkan media sosial untuk menyatakan bahwa ia bukan PKI, seperti yang dilakukan Donald Trump misalnya.

Ia tidak asyik memainkan citra bahwa ia Islam dengan sibuk menyelenggarakan shalat subuh berjamaah misalnya. Atau memainkan isu-isu agama supaya ia terlihat sebagai “Islam yang kaffah”.

Jokowi memainkan peran sebagai dirinya sendiri yang memang sejak dulu ia lakukan. Kedekatannya dengan para ulama waktu ia masih menjabat sebagai Walikota dan Gubernur DKI bukan karena ia harus mencitrakan dirinya, tetapi ia gemar meminta nasihat dari mereka yang “sudah selesai dengan dirinya”.

Ingat ketika Jokowi sedang gamang, saat ia baru saja dilantik menjadi Presiden, kepada siapa ia meminta petunjuk dan nasihat yang benar?

Ya, dia mengunjungi Buya Syafii Maarif, seorang ulama dan cendekiawan dari Muhammadiyah. Bahkan ada cerita, disaat sedang bingung memilih langkah apa yang harus dilakukan, Jokowi sering diam-diam mengunjungi Buya sekedar berkeluh kesah dan mendengarkan nasihat dari seorang yang dia anggap bijaksana.

Jokowi jelas tidak akan minta pendapat dari “ulama” yang tidak jelas keulamaannya. Dia punya standar dan kriteria yang tinggi untuk seorang ulama. Bukan ulama abal-abal yang cukup punya massa, tereak sana-sini, eh nyangkutnya di masalah selangkangan juga.

Habib Luthfi Pekalongan adalah salah satu ulama yang dihormati Jokowi. Habib Luthfi jelas adalah orang yang sudah selesai dengan bab NKRI dan dirinya sendiri.

Habib Luthfi adalah ikon Banser NU di Jawa Tengah. Habib Luthfi selalu menekankan kepada para anggota Banser untuk terus melawan radikalisme agama dan menjaga negeri ini. Usia beliau sudah 70 tahun, tetapi semangat beliau untuk terus berjuang tidak pernah padam.

Karena itulah Jokowi menyempatkan diri datang ketika diundang oleh Habib Luthfi untuk membuka Muktamar ke XII Jatman, sebuah badan otonom NU, di Pekalongan.

Dan tahu apa pesan Habib Luthfi didepan ribuan jamaahnya?. “NKRI harga mati!!”. Sebuah pesan sederhana namun sangat kuat maknanya..

Begitulah cara Jokowi melawan propaganda pada dirinya bahwa ia mengkriminalisasi ulama. Tanpa banyak curhat, tanpa penuh ketegangan, tanpa riuh di media, Jokowi sudah menyelesaikan perang tanpa orang yang menyerangnya sadar bahwa ia sudah mati duluan.

Saya saran pak Jokowi, bagaimana kalau sekali-kali ke Turki? Kan disana ada “ulama” yang gak pulang-pulang sedang jalan-jalan? Kalau jadi kesana, saya titip pertanyaan satu saja. “Apa beliau sudah ketemu sama bidannya Yesus?”.

Dah, gitu aja.. titip cium tangan Habib Luthfi, pakde. Semoga beliau sehat-sehat saja..


Seruput dulu kopinya.