Minggu, 21 Januari 2018

KETIKA BANI MICIN TERIAK HUTANG

Hutang
Jokowi
Kemaren saya didatangi orang Bank..

"Bapak tidak mau menambah plafon hutangnya ?" Tanya mereka sambil bermanis-manis. Saya menjawab, "Saya belum perlu. Nanti kalau ada permintaan barang dalam jumlah besar dan uang saya gak mencukupi, baru saya call Bank untuk pinjam.."

Pertanyaannya, kenapa kok saya ditawari supaya berhutang ? Jawabnya sederhana, TRUST atau kepercayaan.

Kepercayaan pihak bank kepada para debitur atau peminjam, tumbuh seiring kerjasama yang baik. Pihak Bank selama ini mendapat keuntungan karena mendapat bunga dari uang yang dipinjamkannya, saya mendapat keuntungan karena bisnis saya bisa jadi lebih besar berkat pinjaman uang mereka.

Dan kepercayaan itu terjaga ketika kami sama2 menjaga kepercayaan itu. Saya berusaha keras untuk disiplin membayar kewajiban saya ke Bank sehingga mereka pun percaya untuk menambahkan pagu pinjaman ke saya.

Tentu ini hutang produktif, bukan konsumtif. Kalau saya pake hutang bank itu untuk belanja mobil, pakaian dan hura2, tentu saya tidak akan dipinjami.

Kepercayaan Bank datang bukan karena besarnya aset saya, tapi lebih karena pekerjaan saya dan kedisplinan saya membayar cicilan.

Hutang selama ini dikonotasikan negatif. Padahal tidak ada bisnis yang tumbuh besar tanpa hutang. Semua perusahaan besar di dunia pasti punya hubungan dengan Bank. Dengan adanya hutang piutang ini, maka ekonomi berjalan lancar.

Jadi saya heran juga ketika ada seorang teman berteriak dalam statusnya, "Indonesia Presidennya tukang ngutang !!"

Buat dia hutang itu bersifat negatif.

Mungkin dia tidak pernah menjalankan bisnis menengah apalagi besar sehingga phobia terhadap hutang. Mungkin juga dia pernah trauma ketika tercekik hutang karena perilakunya sendiri terhadap hutang itu yang salah.

Temanku itu tidak bisa melihat dalam skala yang lebih luas, bahwa ketika negeri ini masih ditawari hutang oleh pihak luar, berarti negeri ini masih dipercaya bisa membayar. Dan kepercayaan itu nilainya jauh lebih mahal daripada nilai hutang itu sendiri..

Pembangunan infrastruktur di Indonesia tidak bisa dilakukan tanpa hutang. Karena besarnya pengeluaran untuk membangun infrastruktur, tidak sebanding dengan kondisi keuangan kita sekarang.

Paling sederhana gini, bagaimana anda bisa punya rumah sekarang ini tanpa KPR ? Apa mau nunggu duit terkumpul dulu baru beli rumah ? Sudah uang terkumpul sekian puluh tahun menabung, eh harga rumah juga sudah naik gila2an. Akhirnya ngontrak lagi ngontrak lagi..

Hutang di Indonesia sekarang ini dilakukan untuk membangun jalan - supaya arus distribusi lancar. Juga membangun bendungan - supaya produksi pangan lancar. Juga membangun listrik - supaya produktivitas lancar.

Semua untuk kelancaran. Jika produksi dan distribusi lancar, tentu ekonomi kita lancar. Dengan ekonomi lancar, tenaga kerja terserap. Banyak hal yang positif dengan berhutang, daripada tidak jika itu sifatnya produktif.

"Memangnya kita gak bisa bangun infrastruktur tanpa hutang ?" Temanku teriak lagi dengan mulutnya sibuk mengunyah micin curah.

Bisa. Dengan jual aset2 besar kita..

Tapi nanti ribut lagi. Dulu harus jual Indosat buat bayar hutang akibat jatuh tempo karena pemimpin lama berhutang untuk konsumtif, kamu teriak juga. Berhutang salah, jual aset lebih salah. Apalagi kalau ekonomi tidak lancar, pasti jauh lebih salah..

"Gua gak percaya !! Pokoknya Jokowi salah karena dia raja hutang !!" Temanku menyobek bungkus micin kedua..

Tiba-tiba pintu diketuk.

Temanku membuka pintu dan terlihat ibu warung dengan wajah galak bawa sapu lidi berdiri di depan. Sejenak dia terpana dan akhirnya membungkuk dengan gaya memelas,

"Eh ibu.. iya bu. Saya belum bisa bayar hutang bu. Iya, tadi saya hutang lagi micin 2 kilo. Maaf bu.. maaf.."

Plak ! Plak ! Plakkkk ! Terdengar suara sapu lidi mengenai badan menggema di seluruh ruangan menemani saya minum kopi dengan nikmat sekali..


Seruputtt...