Minggu, 07 Januari 2018

KUMIS PAK DJAROT

Sumut
Djarot Saiful Hidayat
“Sampah kok dibuang ke Sumut”. Begitu propaganda bani micin ketika mengetahui Djarot Saiful Hidayat dikirim ke Sumatera Utara untuk menjadi calon Gubernur.

Bani micin di Sumut ini memang agak aneh. Mereka dulu memilih sampah, eh tereak sampah ke orang lain.

Masih segar dalam ingatan banyak orang, ketika orang Sumut memilih Syamsul Arifin yang didukung oleh PKS karena dianggap bersih dan agamis. Ehhh.. ketangkap KPK karena korupsi APBD. Wakilnya Syamsul Arifin adalah Gatot Pujo.

Akhirnya Gatot Pujo yang asli politisi PKS inipun mencalonkan diri lagi dan menang. Ehhh.. ketangkap lagi karena korupsi sama istri mudanya. Istri muda??? Iyes, istri muda. Saling sayang menyayangi dalam hal korupsi adalah perwujudan pernikahan yang langgeng dan abadi.

PKS lagi, PKS lagi. Bosen ahhh.. gitu-gitu aja kelakuannya.

Dari dua peristiwa itu kita bisa melihat siapa sampah sebenarnya dan siapa yang memilih sampah-sampah itu.

Sedangkan pak Djarot adalah mantan Walikota Blitar, dua periode. Dua periode loh, dan tidak ada rekam jejak beliau korupsi. Begitupun ketika ia didapuk jadi Wagub DKI yang anggarannya segede gunung Fuji, juga tidak ada ribut-ribut korupsi.

Nah, rekam jejak inilah yang seharusnya dijadikan acuan dalam memilih pemimpin daerah, bukan fanatisme “agama” apalagi “putra daerah”.

Ngomong-ngomong putra daerah, dulu juga Gatot Pujo bukan putra daerah tapi kok gak diserang isu putra daerah ya? Ohh.. karena dia PKS ternyata, jadi aman-aman saja.

Sumatera Utara hanya punya satu prestasi besar, yaitu KORUPSI. Peringkat teratas korupsi Sumut ini -menurut Fitra dan ICW- bertahan dari 2011 sampai 2015. Horeee..

Sumut sempat sekali kalah dengan Aceh dan menduduki peringkat kedua. Tapi Sumut kembali merebut puncak pertama sesudah “bekerja keras dan cerdas” dalam hal korupsi.

Dan ketika pak Djarot yang tidak punya rekam jejak korupsi dianggap sampah, lah.. sebuah sampah ditengah tumpukan sampah bisa jadi adalah sebuah berlian.
Kumis pak Djarot dibutuhkan untuk menyapu biang-biang korupsi di Sumut dengan sistem yang sudah dia terapkan di Blitar dan DKI. Karena korupsi itu selalu dengan mencoba mengakali sistem, karena itu sistem harus dibuat kuat disana.

Masak warga Sumut gak lelah dengan berita korupsi disana? Apa jangan-jangan malah sudah betah??

“Jangan harap dapat pemimpin yang cerdas kalau yang memilih masih bodoh. Jadi ya terima aja nasib..” Begitu kata Ryaas Rasyid.

Nasib Sumatera Utara tergantung dari pemilihnya sendiri. Kalau anda Golput, maka anda sudah menyerahkan hasil kepada pihak yang ingin melegalkan korupsi dan anda sendiri yang rugi.

Sumut harus berbenah diri. Percayalah, kumis pak Djarot itu menggemaskan. Tanya aja wong Blitar. Seruputt.