Selasa, 16 Januari 2018

PARA PENCARI ARTI

Kehidupan
Para Pencari Arti
“Tanpa sadar, manusia setiap detik membebani dirinya dengan angan-angan..

Punggungnya seperti membawa ransel yang berisi miliaran keinginan. Belum tercapai keinginan satu, ia kembali membangun keinginan baru. Keinginan lamanya berkembang, membentuk anak-anak cabang yang berbuah keinginan-keinginan tambahan.

Terus begitu seiring waktu yang berjalan..

Ketika melihat orang lain sukses, ia menginginkan kesuksesan yang sama. Ketika melihat orang lain berhasil, ia menginginkan keberhasilan yang sama. Ia selalu mengukur dirinya dari apa yang dilihatnya.

Apa yang terjadi kemudian?

Kejiwaannya terbentuk dari ukuran yang dibangunnya sendiri dalam pemikiran. Ketika bertemu orang lain yang sukses, ia rendah diri merasa belum seperti dia. Ketika melihat orang lain berhasil, ia malu menunjukkan dirinya dan menunduk di hadapannya.

Lihatlah, betapa permainan pikiran bisa begitu membahayakan..

Manusia yang terjebak dalam angan-angan panjang selalu tidak stabil jiwanya. Ketika ia merasa dirinya sukses, ia terbang ke awan. Ketika merasa gagal, ia terbenam ke bumi. Malu menampakkan diri..

Betapa rumit hidup baginya. Semua harus sesuai keinginannya. Jika tidak, ia patah. Putus asa dan merasa paling menderita di dunia..”

Aku mendengar celotehan temanku malam itu, sambil ditemani secangkir kopi tentunya. Ia tampak lebih muda dari usianya. Raut wajahnya tenang menunjukkan ia sudah matang. Senang mendengarnya berbicara, sesenang melihatnya selalu berbahagia..

“Aku sudah lama membuang banyak keinginan dalam hidupku. Karena keinginan itu sumber kekecewaan...

Aku hidup untuk menikmati setiap detik mukjijat yang terjadi. Aku menikmati setiap proses peristiwa sebagai pembentuk diri yang sejati. Aku tidak membiarkan diriku diukur manusia lain, sebagaimana aku tidak ingin mengukur manusia lain.

Biarlah semua berjalan seperti seharusnya. Kita hidup bukan ingin menunjukkan siapa kita, tetapi seberapa berfungsinya kita.

Itulah sebenarnya rahasia kenapa kita dilahirkan di dunia ini, untuk berfungsi kepada manusia lainnya..”

Kata-kata itu selalu kuingat dalam setiap detik perjalanan hidupku. Kubuang ransel keinginan yang menghalangi kemerdekaanku berjalan. Hidupku tenang, jiwaku jauh lebih stabil..

Sambil menikmati secangkir kopi malam ini, aku teringat kata-kata terakhirnya yang menggelitik hati..

“Kebahagiaan itu tidak perlu dicari. Hadirkan ia di dalam diri, maka - seperti magnet - ia akan bertemu dengan keping kebahagiaan lain dan membentuk kebahagiaan yang hakiki.

Ini bukan tentang materi, ini tentang mencari diri sendiri..” Ia tersenyum mengajarkanku rahasia yang selama ini ingin kupahami..

Ah, dimana dia sekarang ini? Aku adalah murid dari sesuatu yang tidak kuketahui..

Secangkir kopi menemani malam panjangku, mencari apa sebenarnya fungsiku di dunia ini..

“Angan-angan panjang adalah setengah dari ketuaan..” Imam Ali.