Minggu, 07 Januari 2018

RK & PDIP PISAH JUGA AKHIRNYA

Politik
Ridwan Kamil
Akhirnya Ridwan Kamil dan PDIP pun tidak berjodoh. Sesudah melakukan pendekatan, berpelukan, RK dan PDIP mencari jalan masing-masing. RK tetap pada koalisinya PPP-Nasdem-PKB dan Hanura. Wakilnya dia ambil dari PPP.

Dengar-dengar kabar, bu Mega memang sudah tidak suka dengan RK sejak awal. Ini karena RK pada waktu awal datang ke PDIP dianggap terlalu pongah, karena sudah menentukan dirinya sendiri sebagai Cagub.

Sedangkan PDIP sebagai partai besar dan satu-satunya partai yang bisa mengusung calonnya sendiri, merasa diremehkan karena hanya dianggap sebagai “batu injakan”.

Jadi mau bagaimanapun orang-orang dalam PDIP merayu bu Mega, tetap saja beliu kalau sudah tidak suka ya tidak suka. PDIP lebih baik mengusung calon sendiri dari partainya, yaitu TB Hasanudin ketua DPD PDIP Jabar. Berpasangan dengan mantan Kapolda Jabar Anton Charliyan.

Kans menangnya tentu sangat kecil, karena nama TB Hasanudin tidak masuk dalam survey-survey. Seperti pernah kita bahas dulu, Jabar itu hanya mengenal 3 tokoh. RK, Deddy Mizwar dan Dedi Mulyadi. Ketiga tokoh ini selalu diatas hasil surveynya.

Tapi dengan begitu, situasi Pilgub Jabar jadi menarik.

Dengan adanya 4 kandidat, maka sulit memastikan siapa yang menang karena suara terpecah. Catat, Pilgub Jabar bukan seperti DKI. Di Jabar hanya ada satu putaran, jadi siapa yang paling tinggi dia pemenang. Dan masing-masing punya basis massa.

Dengan pecahnya suara, maka ini kebaikan bagi kepentingan nasional. Isu SARA akan teredam habis karena tidak ada basis kekuatan massa yang terbagi dalam dua kelompok besar seperti di DKI dulu. Mungkin seharusnya DKI mengikuti model pilkada yang umum kalau tidak ingin terpecah lagi kayak kemaren.


Oke, sekarang kita memantau Sumatera Utara. Salam secangkir kopi..