Selasa, 30 Januari 2018

SABAR ITU LEVEL SPIRITUAL TERENDAH

Hidup
Kesabaran

“Rejeki itu gak usah dikejar, pak, dia pasti datang sendiri asal kita mau usaha..” Kata seorang supir taksi kepadaku.

Kebetulan saya menumpang taksinya sambil ngobrol-ngobrol tentang makna hidup. “Lumayan juga cara berfikir bapak ini..” Kataku dalam hati sambil tersenyum.

“Rejeki itu mirip karma. Kalau kita baik dan sering membantu orang, maka akan datang juga orang baik memberikan rejeki. Dan rejeki dari orang baik, pasti itu rejeki yang baik. Sebaliknya begitu juga, kalau kita jahat pada orang..”

Saya melamun sejenak memikirkan perkataan seorang teman sekian tahun lalu ketika kami sedang ngopi bersama..

“Hidup itu gak perlu banyak angan, malah menambah beban. Tuhan tahu kok kapasitas hambaNya, maka ia diberi rejeki sesuai porsinya. Tidak lebih dan tidak kurang.

Banyak orang ingin menjadi kaya. Tapi ia tidak memahami kesiapan dirinya. Apakah ketika Tuhan mencurahkan banyak harta kepadanya, orang itu akan bertambah baik?

Belum tentu, bisa jadi ia bertambah hancur karena harta malah membuatnya silap dan tersesat... Ia yang ketika susah adalah pecinta akhirat, ketika kaya malah dunia membuatnya terikat..”

Aku mendengarkan itu sambil menyeruput secangkir kopi di sebuah warung. Ada tahu isinya, panas-panas dan enak dikunyah.

“Manusia itu aneh. Dia yang membuat rencana dengan nafsunya, kemudian memerintah Tuhan untuk mengabulkannya. Kalau tidak terkabul, dia marah. Padahal dengan tidak mengabulkan doanya, bisa jadi Tuhan menghindarkannya dari marabahaya.

Padahal apa yang dikejarnya, belum tentu baik baginya. Tapi ia sudah mengambil kesimpulan bahwa itu rejekinya, yang harus ia kejar dengan segala daya. Nafsu itu yang selalu menuntun manusia ke arah yang salah.

Itulah kenapa banyak orang tertipu karena ia selalu mengukur seseorang dengan mata, bukan dengan hati yang terbuka..”

Ah, sudah sampai rupanya. Aku turun dan memberikan pak Taksi selembar uang. “Gak usah kembalian..” Kataku.

“Benar kan? Itulah yang dimaksud rejeki tak terduga. Ketika saya tidak mengharapkan, bapak ternyata memberi kelebihan. Terima kasih, bapak termasuk pemberi rejeki baik yang saya temui hari ini..” Kata supir taksi tersenyum sebelum ia melanjutkan perjalanannya.

Saya masih tercengang di pinggir jalan.

Seorang supir taksi mempunyai konsep bersyukur dalam setiap keadaan. Baginya sabar sudah bukan lagi levelnya, karena batas sabar adalah ketika kita selalu bersyukur, bahkan dalam situasi yang paling sulit dalam hidupnya.

“Sabar itu level spiritual orang dengan keyakinan terendah, pak.. Syukur itu level menengah dan berbagi itu adalah level spiritual tertinggi dalam kehidupan..” Terngiang katanya tadi di dalam mobil.

“Manusia itu bukan diukur dari seberapa banyak yang ia punya, tapi dari seberapa mampu ia menerima..” Kata temanku dulu.

Ah, aku kangen minum secangkir kopi lagi dengannya..