Sabtu, 06 Januari 2018

SEMUA MENUJU PILPRES 2019

Pilkada 2018
PDIP VS Gerindra
Politik memang tidak bisa 1 + 1 = 2.

Banyak jalan menuju angka 2. Bahkan 10 dikurangi 8 pun hasilnya dua. Semua tergantung situasi dan kondisi lapangan.

Politik dalam pemilihan adalah seni bagaimana cara memenangkan pertarungan.
Pemegang juara hasil survey, bisa keok ditangan mereka yang sedari awal hasil surveynya tidak tampak. Mereka yang dulu bermusuhan, bisa tiba-tiba bergandengan tangan untuk satu kepentingan..

Ridwan Kamil sejak awal dimusuhi PDIP.

Dikabarkan PDIP sempat tersinggung ketika RK datang ke markasnya dan langsung mengangkat dirinya sebagai Gubernur. Hari ini dikabarkan RK akan dicalonkan sebagai Cagub dari PDIP.

Dan ketika PDIP masuk, maka kemungkinan besar posisi wakil yang kemaren diperebutkan PPP dan PKB, gugur semua. PDIP punya wakil sendiri, mantan Kapolda Jabar Anton Charliyan. PPP dan PKB gigit jari, bisa jadi mereka beringsut-ingsut pergi karena sakit hati..

Itupun bukan keuntungan besar bagi RK sebenarnya. Citra dirinya yang sudah dibangun dengan konsep relijius, agamis dengan program shalat subuh berjamaah dan “mayoritas di fasilitasi minoritas dilindungi”, akan turun ketika ia berpasangan dengan Anton Charliyan.

AC pernah bermasalah ketika ia digaungkan membina ormas Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia atau GMBI. GMBI dikabarkan sebagai ormas preman dan pernah beberapa kali bentrok dengan ormas2 termasuk FPI dan Pemuda Pancasila.

Sedangkan di sisi Dedi Mulyadi banyak kekecewaan ketika Golkar sudah memutuskan bahwa ia hanya menjadi Cawagub Deddy Mizwar.

Meskipun begitu, banyak pengamat yang menilai bahwa ini sebenarnya keputusan cerdas Golkar untuk menangkal isu SARA yang akan dihantamkan ke Dedi Mulyadi.

Di Jawa Timur pun demikian.

Bupati Banyuwangi Azwar Anas yang digadang-gadang sebagai calon pemimpin masa depan, akhirnya menyerah dan mundur perlahan. Foto dirinya dengan seorang wanita “berpaha putih” yang entah punya siapa dengan botol minuman, tersebar dimana-mana.

Dan ia tidak bisa menjawab, siapa itu. Daripada berpolemik, ia mengundurkan diri saja dan mengembalikan mandat ke PDIP yang kabarnya akan mengangkat bu Risma Walikota Surabaya sebagai calon Gus Ipul.

Di Sumatera Utara, calon Gubernur dari PKS, mantan Pangkostrad Edy Rahmayadi tertangkap kamera sedang bagi-bagi uang pecahan 50 ribu rupiah kepada jemaat Gereja. Edy sendiri mengklarifikasi bahwa begitulah adat dan budaya masyarakat disana.

Panasnya “api” politik 2018 ini adalah bagian dari pemenangan pertarungan wilayah antara koalisi Gerindra-PKS dan PAN, melawan koalisi PDIP dan beberapa partai untuk menuju 2019.

Koalisi PDIP dan beberapa partai menerapkan strategi “pecah suara” dengan membuat calon lebih dari satu untuk memenangkan pertarungan di beberapa daerah.


Selamat datang keriuhan yang dikenal sebagainpesta demokrasi ini. Tidak akan habis berita ke depan karena pasti penuh intrik dan strategi. Seruput dulu ah..