Jumat, 19 Januari 2018

TEMANKU SEORANG GAY

Seksual
LGBT
Temanku ternyata seorang gay. Aku baru tahu ketika akhirnya kami duduk berdua sambil ngopi bersama dan ia bercerita tentang kisah hidupnya. Entah kenapa ia begitu percaya padaku.

Dan sesudah dia bercerita semua dimana aku menjadi pendengar yang baik, akhirnya dia minta pendapatku, “Bagaimana pandangan kamu?”.

Bagaimana pandanganku? Aku merasa aneh dengan pertanyaan itu.

Jika pakai hukum agama, apa yang dilakukannya jelas salah. Tapi ia sudah pasti menyingkirkan hukum agama, karena agama buatnya bukan solusi atas persepsi terhadap dirinya sendiri.

Banyak sekali dari kita sebenarnya bukan mencari kebenaran sejati, tapi lebih condong melakukan pembenaran terhadap diri sendiri.

Sifat dasar manusia adalah tidak mau disalahkan atas apa yang dia lakukan.

Meskipun apa yang dibilang orang pada dirinya benar, ia tetap tidak akan bisa menerima karena ia sejatinya bukan mencari jalan keluar, tapi mencari teman yang sepaham dengan pembenaran yang dia lakukan.

Coba aku jawab, “Kamu salah, karena bla bla..” aku sudah pasti dijauhi karena bertentangan dengan apa yang selama ini dia pahami. Jadi lebih baik diam sambil terus mendengarkan apa yang dia ocehkan. Manusia punya keputusan sendiri atas apa yang ia lakukan.

Pada dasarnya, manusia selalu berasumsi terhadap sesuatu. Ketika ia merasa bahwa apa yang dilakukannya benar, maka ia akan terus membenarkan apapun yang dilakukannya.

Asumsi adalah pendapat tanpa pijakan yang kuat. Karena tidak punya pegangan yang kuat, maka apa yang dirasanya baik itu sudah pasti benar.

Padahal kebenaran bukan diukur dari apa yang dianggap manusia baik. Kebenaran adalah kebenaran, sedangkan “kebaikan” banyak yang berasal dari prasangka saja..

Disitulah gunanya agama sebenarnya, sebagai sebuah pijakan. Sebuah landasan berpikir untuk mengetahui apakah yang kita lakukan benar atau salah. Agama adalah petunjuk, supaya manusia tidak berjalan di dunia ini dengan prasangka- prasangka.

Aku jadi teringat ketika betanya pada seorang teman, “Apakah yang aku lakukan benar? Atau hanya prasangkaku saja bahwa itu benar? Bagaimana mengenali bahwa yang aku lakukan adalah benar atau salah?”

Temanku yang kuanggap bijak tersenyum. Dia menjawab dengan tohokan yang kuat ke ulu hati.

“Prasangka adalah nafsu. Nafsu selalu berjalan ke arah salah. Dan ujung dari nafsu adalah kehancuran...”

Aku masih belum mengerti,
“Bagaimana aku bisa tahu bahwa apa yang kulakukan adalah berdasarkan nafsuku??”

Dia mengambil kopi yang sudah tersedia di depannya dan menjawab dengan tanpa beban.

“Hancurkan dulu dirimu. Menghancurkan dirimu sama saja dengan menghancurkan nafsumu. Buang semua alasan-alasan yang selama ini kamu bangun sebagai pembenaran. Mulailah dari yang awal, bahwa kamu tidak punya pengetahuan apapun tentang dirimu sendiri.

Lalu carilah petunjuk yang sudah disediakan sebagai tahapan kamu belajar..”

Ah, berat sungguh. Aku mengeluh. “Lalu bagaimana kalau aku tidak bisa menghancurkan diriku sendiri karena egoku sudah terlalu besar?”.

Temanku tertawa. Sore itu cuaca cerah meski sedikit berawan. Dia lalu mengangkat cangkir kopi dan menyeruputnya.

“Kamu tanpa sadar sudah meminta Tuhan campur tangan untuk menghancurkan dirimu sendiri. Bersiaplah, goncangan akan datang..”

Dan setahun kemudian, seluruh hartaku habis dan aku berada pada titik paling terendah dalam hidupku. Tuhan membantuku menghancurkan diriku melalui kesalahanku sendiri. Dan pelan-pelan aku menyusun keping-keping diriku sampai akhirnya aku mengerti.

Butuh tahunan hanya untuk berada pada tahapan mengerti saja.

Aku dan temanku yang gay berpisah tanpa sepatahpun aku memberinya pengertian. Aku tidak ingin mengajarinya, biarlah peristiwa yang membentuk dirinya sendiri.

Supaya kami tetap berteman, terkadang diam adalah sebuah pengorbanan tersendiri..

Biarlah aku menulis ini saja. Bukan untuk dia, tapi untuk mereka yang ingin belajar tentang bagaimana Tuhan mengajarkan manusia melalui proses peristiwa.

Sampai kita paham, jika kita mau belajar memahami..

Secangkir kopi siang ini rasanya nikmat sekali...