Jumat, 12 Januari 2018

TERIMA KASIH, PAK PRABOWO

HTI
Prabowo Subianto
Sejak awal saya mengamati pergerakan HTI yang boleh dibilang liicin dan licik. Mereka tidak hanya terpusat di HTI saja, tapi juga menyebar dan membentuk ormas-ormas berbeda, mengatas-namakan Islam meski mempunyai ideologi yang sama. Ideologi mereka adalah mendirikan negara khilafah atau - sekarang mereka samarkan dengan nama NKRI Bersyariah.

Dengan gerakan terpisah dari organisasi induknya HTI, ormas-ormas ini berhasil menyatukan diri dalam kelompok yang mereka namakan gerakan 212. Pentilannya -karena pentol sudah mainstream- ya orangnya itu-itu juga.

Kasus nyanyian La Nyalla karena merasa dipalak 40 miliar rupiah oleh Gerindra, membuka tabir itu semua.

Gatot Supono alias Al Khotot, pun bernyanyi bahwa kelompok mereka sudah menitipkan beberapa nama dari kelompok mereka untuk masuk menjadi kepala daerah. Dan nama-nama ini sudah mendapat restu dari junjungan mereka Rizieq Syihab di Saudi sana.

Sayangnya, kelompok ideologi khilafah ini bukanlah partai sehingga tidak bisa mencalonkan sendiri. Mereka berharap banyak dari koalisi Gerindra, PAN dan PKS yang selama ini “mereka bantu” memuluskan agenda politiknya.

Ibarat kata ini “Tuyul ketemu Genderuwo”. Mereka berharap menunggangi malah mereka yang akhirnya ditunggangi.

Nama-nama yang mereka ajukan ternyata ditolak oleh partai-partai yang selama ini mereka dukung. Alasannya sederhana, gak mau bayar Mahar yang di politik itu adalah hal biasa. Para pentilan khilafah ini tidak percaya bahwa “jika uang berbicara, semua orang agamanya sama”.

Melihat perseteruan di dalam kelompok mereka yang dulu bersatu karena kepentingan yang sama, kita patut lega.

Jalinan pertemanan mereka ternyata serentan jaring laba-laba. Baru masalah uang saja sudah saling garuk menggaruk muka. Akhirnya saling menyanyilah mereka, meski gada merdu-merdunya suaranya.

Kebayang apa yang terjadi ketika partai-partai koalisi yang dulu mendukung mereka, memberi mereka tempat untuk menjadi kepala daerah. Bisa-bisa satu daerah di cuci otak semua untuk berideologi khilafah.

Saya jadi teringat dulu tersebar foto Walikota Bogor duduk dan di belakangnya ada orang-orang HTI yang berdiri seolah-olah merekalah yang memimpin, dan menyiratkan Walikota itu hanyalah jabatan boneka.

Kita harus berterima-kasih pada pak Prabowo sejujurnya. Rasa nasionalis pak Prabowo lah yang menyingkirkan agenda besar khilafah itu. Tanpa disadari, masalah uang mahar 40 miliar rupiah itu, membongkar semua kegagalan agenda besar kelompok khilafah untuk menunggangi Gerindra.

Pak Prabowo juga membuktikan bahwa ialah penunggang kuda sebenarnya. Ia bisa membedakan mana kuda dan mana manusia. Terimakasih, bapak.. Engkau sudah menunjukkan kepada kami bahwa bapaklah Capres yang sejati-jatinya.

Seruputttt..