Selasa, 09 Januari 2018

UNTUNG GUA BUKAN AHOK

Veronica Tan
Ahok
Seharian ini di timeline banyak Pendetanya. Begitu juga ngintip komen di teman yang tiba-tiba penuh copasan panjang berisi “perceraian menurut Alkitab”.

Ini gegara Ahok, yang ternyata tidak sesempurna yang mereka pikirkan. Mendadak banyak yang suci seakan2 lebih tahu apa yang terjadi. Lebih sial lagi banyak juga yang menghakimi..

Padahal yang mengutip Alkitab, bisa saja sekarang sedang flirting dengan seseorang untuk menghindari perceraian. Atau mungkin dia sedang menderita karena pasangannya kabur diam-diam karena sudah tidak tahan.

Atau juga hubungan sedang bermasalah besar karena ingin mempertahankan status sosial, meski tidak merubah sikapnya pada pasangan.

Kecewa adalah hal yang biasa, tapi menjadi tidak biasa ketika berlebihan. Seseorang juga punya kehidupan. Sekuat apapun dia sebagai manusia, dia punya titik lemah. Sebagus apapun rupanya, dia pasti punya cacat yang kadang tidak bisa disembunyikan.

Jadi biasa sajalah.. Itulah hidup. Dan ketidaksempurnaan itu menunjukkan bahwa kita itu sebenarnya hanya manusia biasa. Bukan Malaikat. Apalagi Tuhan.

Lah, dia yang cerai kok ente-ente yang kelojotan.

Beda kalau Ahok tiba-tiba ketahuan korupsi atau chat seks misalnya. Bolehlah ngamuk gak keruan. Wong cerai aja, kok tiba-tiba banyak yang menjadi Tuhan??

Untung gua bukan Ahok. Yang harus menanggung beban begitu besar dari mereka yang memujanya.

Ahok pasti pengen seperti gua. Mau nulis status seenak udelnya, nongkrong di kamar gak pake celana, lari keluar hanya pake beha, boker berjam-jam dengan suasana hening terdiam, gada yang sibuk menilai.

Palingan yang menilai cuman sibuk ngomong masalah ILC.

Hok, sini ngopi. Mending jadi gua aja daripada lu puyeng sendiri, ngadepin orang yang merasa memiliki, menganggap lu orang suci yang gak punya cacat diri.

Btw, ngapain sih lu pake cerai segala jadi orang pada sibuk ngomongin??

“Ssst, jangan bilang-bilang ya. Jadi gini bla bla bla.. (berbisik sampe sejam lamanya). Lu ngarti kan maksud gua??”

“Kagak!”
“Kimakk!!!”