Selasa, 30 Januari 2018

VINI, VIDI, VICI ALA JOKOWI


Jokowi
Jokowi dan Presiden Afghanistan
Apa sebenarnya arti dari teror ?

Teror itu bukan bom, bukan serangan mendadak, itu hanya cara saja. Arti sebenarnya dari teror adalah menciptakan ketakutan.

Ketika satu komunitas sudah merasakan ketakutan, teror itu sejatinya sudah berhasil. Dan level-level ketakutan akan terus dinaikkan, sehingga satu komunitas bahkan mendengar kata teror saja sudah lemas.

Teror di Indonesia bentuknya pun bermacam-macam. Mulai persekusi, isu sampai bom bunuh diri beberapa waktu lalu. Bahkan ada teror yang mengatas-namakan alumni, mengancam supaya Presiden RI menerima penjahat susila yang bermukim di Saudi, jika tidak akan ada apa-apa.

Kunjungan Jokowi ke Kabul Afghanistan, pasca ledakan bom yang menewaskan 40 orang, adalah sebuah simbol kuat bahwa ia tidak takut oleh teror dalam bentuk apapun.

Sebuah pesan kepada bangsanya, bahwa antivirus dari teror adalah keberanian. “Anda takut, maka sejak awal anda kalah..” begitu pesannya.

Ini pesan penting, karena Indonesia adalah negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia. Dimana terorisme selalu mengancam dari kaum fundamental yang menjadikan agama sebagai jubah kejahatan.

Keberanian Jokowi datang ke Kabul, tentu sangat di apresiasi oleh pemerintah Afghanistan..

Disaat mereka sedang diguncang teror, seorang Presiden dari negara lain tetap datang. Ini sebuah support, menaikkan keyakinan rakyat Afghanistan, bahwa mereka tidak sendiri, bahwa ada bangsa lain yang berdiri bersama mereka melawan ketakutan.

Jadi wajar jika Jokowi kemudian diberikan gelar sebagai Presiden pemberani oleh mereka, bahkan posternya ada dimana-mana. Apresiasi tertinggi mereka berikan kepada Jokowi sebagai Imam Shalat, sebuah apresiasi yang jarang diberikan kepada pejabat tinggi dari negeri lain.

Kita seharusnya bangga mempunyai Presiden yang mendapat apresiasi setinggi itu dari bangsa lain. Jokowi membawa nama harum bangsa Indonesia sebagai bangsa pemberani. Dan dengan begitu teman kita di luar negeri pun akan bertambah..

Di tengah caci maki dari bangsa sendiri, Jokowi tetap membalasnya dengan elegan. Tidak perlu ngamuk, apalagi berkeluh di media sosial. Ia cukup menghadiri undangan, dan ia sudah membungkam banyak nyinyiran.

Saya jadi teringat perkataan Julius Caesar kepada senat Roma sesudah kemenangannya dalam perang Zela.

“Veni, Vidi, Vici..” Aku datang, aku lihat dan aku menang..

Ya, Jokowi memang memenangkan banyak hati dari mereka yang dulu meremehkannya..

Seruput...