Kamis, 11 Januari 2018

WAKTUNYA GANTI PERSNELENG, BU SUSI

Tenggelamkan
Bu Susi Pudjiastuti
Dalam sebuah organisasi, masalah perbedaan pendapat adalah masalah yang biasa saja. Tetapi jika itu terjadi antara para Menteri, kadang hal itu bisa menjadi luar biasa. Terutama bagi awak media.

Awak media haus berita-berita “kontroversial” yang mempunyai nilai berita. Jika kurang kontroversial, mari kita sedikit kontroversialkan biar menjadi viral dan kita angkat sudut pengambilan berita atau angle dari tema yang sama.

Begitu juga yang saya lihat dari kasus “perseteruan” bu Susi dan pak Luhut masalah penenggelaman kapal pencuri ikan.

Bahasa perseteruan adalah bahasa menarik, karena bisa menjadi tema yang diangkat berulang2 dari berbagai sudut pandang yang berbeda.

Bu Susi selama ini sukses menjaga laut kita. Dari tangan dinginnya, keluarlah kebijakan yang sesuai Undang-undang bahwa kapal pencuri ikan berbendera asing yang tertangkap, lalu di tenggelamkan.

Dan terkenallah kata-kata “TENGGELAMKAN!” yang lantas menjadi meme dimana-mana dengan tema yang lucu dan berbeda. “Hari gini masih jomblo? Tenggelamkan!”

Di sini bu Susi sangat sukses membawa namanya melambung. Ia menjadi Menteri yang paling disukai karena ketegasannya, juga karena kepribadiannya yang humble selain dari gaya santainya dengan secangkir kopi di sudut sebuah ruangan.

Dan bu Susi pintar sekali memainkan citra dirinya dengan sudut-sudut pengambilan foto yang bagus ketika sedang ngopi di laut, main selancar di depan kapal yang akan ditenggelamkan dan banyak lagi.

Ini adalah contoh kesuksesan bagainana sudut gambar yang tepat bisa membangun sebuah cerita tentang seseorang.

Tapi bu Susi sepertinya terlalu asik dengan kebijakan penenggelaman kapal ini. Bu Susi terlalu fokus pada penegakan hukum penenggelaman kapal, tapi terlupa hal yang lain seperti peningkatan ekonomi dalam perikanan..

Kementrian Kelautan dan Perikanan KKP sendiri mencatat bahwa terjadi penurunan volume ekspor ikan selama 5 tahun dari tahun 2012 sampai 2017. Penurunan volumenya setiap tahun rata2 hampir 3 persen.

Ini yang menjadi alarm bahwa jangan sampai masalah ekonomi di sektor perikanan ini diabaikan.

Selain itu, PR terbesar dari Kementrian adalah bagaimana masalah ekonomi kelautan ini bisa berdampak langsung pada industri perikanan.

Industri perikanan mengeluh karena bahan baku industri ketersediannya masih sangat kurang. Juga perizinan kapal ikan yang mungkin sangat ketat malah menghambat pelaku usaha di bidang ini..

Disitulah pak Luhut mengingatkan bahwa bu Susi harus ganti fokus.

Masalah “efek jera” kepada kapal pencuri ikan sudah selesai, biarkan aparat yang melanjutkan penangkapan itu. Bu Susi -di tahun 2018- ini harus fokus untuk meningkatkan volume ekspor ikan, menyelesaikan masalah ketersediaan bahan baku di industri perikanan dan melonggarkan perizinan kapal supaya industri perikanan bisa bergerak.

Jadi, ini hanyalah masalah “ganti perseneleng saja”. Masak gigi satu mulu, kita seharusnya sudah masuk gigi tiga di tahun ini. Ngebut but butttt...

Dan ini dikuatkan oleh pernyataan Jokowi, bahwa sudah waktunya bu Susi fokus pada masalah peningkatan ekonomi di sektor perikanan..

Tapi mungkin pak Luhut dan pak Presiden lupa bahwa industri media juga butuh peningkatan. Terutama peningkatan nilai berita supaya media online kliknya bisa nambah, media cetak oplahnya bisa meningkat supaya iklan bisa masuk disana..

Karena itu biarkan perseteruan sehat ini ada. Karena industri media kan juga butuh penambahan nilai ekonomi, pak...

Tapi dari masalah itu kita bisa lihat bahwa Kementrian Jokowi sedang bekerja. Kalau adem ayem aja, kita harusnya patut curiga, kerja pa enggak sih mereka?

Jangan-jangan kayak beberapa anggota DPR yang kerjaannya tidur aja.

Oke, pagi-[agi gini enaknya minum kencing onta... eh kopi deng.. Seruputttt.. kok ada pahit-pahitnya? Jangan-jangan.