Selasa, 20 Februari 2018

HENDROPRIYONO & PKPI

PKPI
Hendropriyono
Saya pernah duduk bersama AM Hendropriyono suatu hari..

Diluar dari namanya yang "menyeramkan" karena banyak yang mengaitkannya dengan sekian banyak kejadian seperti kasus TalangSari di Lampung Tengah tahun 1989 sampai kasus terbunuhnya aktifis Munir, Hendropriyono sebenarnya sosok yang hangat ketika berdiskusi..

"Kalau ada yang terbunuh aja, gua mulu disangkutin.." gerutunya dengan logat betawi yang kental. Saya sulit menahan ketawa kalau ngobrol dengan bapak satu ini, karena gayanya ceplas ceplos dan spontan.

Dan saya tidak tahan untuk tidak bertanya padanya satu hal, "Ngapain sih maenan partai segala pak ? Itukan mahal.."

Hendropriyono adalah seorang Jenderal, seorang Profesor dibidang intelijen, dosen dan pengusaha besar. Gelar akademisnya panjang mulai SE, SH sampai Drs dan Profesor. Gelar Haji juga ada.

Dengan semua yang dia punya, sebenarnya hidupnya sudah sangat cukup, apalagi usia beliau sudah 72 tahun. Meski harus saya akui, kalau masalah kekarnya body saya merasa terintimidasi..

"Partai itu bukan maenan.." cetus beliau. "Partai itu kendaraan untuk berbuat sesuatu bagi negeri ini. Kalau gak ada kendaraannya, bagaimana bisa ikut menjaga negeri ?"

AM Hendropriyono adalah ketua umum PKPI, Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia. Disebut2 PKPI dulu ini adalah pecahan Golkar karena Golkar pada tahun 1998 dianggap tidak sejalan dengan reformasi waktu itu.

PKPI sendiri - sayangnya - dikabarkan tidak lolos dari verifikasi KPU bersama PBB, partai Yusril Ihza Mahendra. "Belum lolos.." kata salah satu King Maker dalam pemerintahan Jokowi ini dengan optimisme tinggi, "bukan tidak.."

Dan bersama PBB, PKPI pun kemudian menggugat KPU. Agak mengherankan memang jika PBB dan PKPI tidak lolos, tapi partai baru seperti partai Garuda - yang tidak pernah terdengar namanya - bisa lolos dan ikut pemilu.

Hendropriyono memang magnet PKPI sampai saat ini. Tanpa kekeras-kepalaannya, PKPI sudah dari kemaren2 hilang dari peredaran. Hal saya pernah saya khawatirkan dan saya lontarkan padanya, "Kalau bapak gak ada nanti, entah bagaimana nasib PKPI.." Dan dia biasanya senyum kalau saya lontarkan pernyataan itu.

Tidak lolosnya PKPI ditanggapi Sutiyoso - mantan Ketua Umum - bahwa ini karena ada dualisme di tubuh partai. Hal yang dibantah PKPI, bahwa sudah tidak ada masalah dualisme di tubuh partai dan masalah belum lolosnya PKPI karena belum sinkronnya penafsiran antara partai dan KPU masalah sistem informasi.

Saya sendiri berharap PKPI bisa lolos dalam pemilu ini. Karena dengan bertambahnya gerbong partai baru di pihak oposisi - partai Berkarya dan partai Garuda - perlu ada partai baru seperti PKPI dan PSI yang sejak awal mendukung pemerintahan Jokowi.

Meskipun politik kita sudah mengarah ke sosok sebagai penentu bukan lagi partai, tetapi peran partai tetap besar untuk mensukseskan jalan sosok yang potensial.

Partai itu maenan mahal, memang itu kenyataan. Membangun basis2 di seluruh Indonesia itu butuh materi yang sangat besar, yang orang seperti saya tidak akan sanggup menyebutkan angkanya.

"Berapa sih pak angka membesarkan PKPI ?" Tanya saya nakal. Hendropriyono tersenyum lebar khas seorang yang terbuka dan misterius sekalian. Gerak matanya seakan menjawab, "Kalau gua buka angkanya, elu bisa mati berdiri.."

Ah, menarik memang perjalanan hidup ini.

Saya sendiri tidak menyangka bahwa salah satu orang yang saya temui dalam perjalanan kali ini adalah sosok besar yang dulu bahkan tidak pernah terbayang akan duduk bersama sambil minum kopi...

Selamat berjuang, pak... Seruputt..