Minggu, 11 Februari 2018

LONE WOLF DI GEREJA SLEMAN

Sleman
Suliono

Penyerangan gereja Lidwina Sleman, saya kira tidak ada hubungannya dengan kasus intoleransi..

Pengertian intoleransi adalah cara pandang yang menolak keberadaan komunitas lain. Sedangkan kasus penyerangan gereja Lidwina lebih dekat ke terorisme.

Sleman bukan kali ini saja terimbas terorisme..


Bulan Oktober 2016, Sleman diguncang bom motor dengan daya ledak rendah yang ditaruh di depan tempat hiburan malam. Ledakan itu tidak menimbulkan korban jiwa dan pelakunya tertangkap.

Tidak lama kemudian tanggal 1 Novermber 2016, di Bantul dekat Sleman, sebuah bom paku meledak diinjak seekor kerbau. Kemungkinan bom itu dibuang untuk menghilangkan jejak.

Kalau melihat sasaran dari pelaku bom motor di Sleman, targetnya adalah tempat hiburan malam. Sedangkan yang baru saja, menyerang gereja Katolik tetapi dengan pedang.

Jika melihat tren terorisme yag terjadi di Eropa dan Amerika, para pelaku teror sudah tidak lagi menggunakan bom dalam aksinya. Karena begitu ketatnya pengawasan akan bahan2 pembuat bom, maka pelaku teror memainkan apa yang ada untuk menyebarkan ketakutan.


Ingat truk yang ditabrakkan ditengah karnaval di Perancis ? Teror dengan model menabrakkan truk di temgh kerumunan juga terjadi di Berlin, Swedia dan New York Amerika.

Nah, di Indonesia para pelaku juga sudah meminimkan menggunakan bom karena mudah terlacak Densus 88. Di Tangerang, pelaku teror menusuk polisi yang sedang bertugas di jalan.

Berdasarkan itu, saya lebih melihat kasus di gereja Lidwina lebih mengarah ke terorisme bukan intoleransi. Karena teroris menyerang apapun yang dianggapnya bertentangan dengan ideologinya, sedangkan intoleran biasanya berkaitan dengan suku, ras dan agama.

Siapa kira-kira di balik ini semua?

Kemungkinan tidak ada jaringan apapum dibelakang penyerang gereja. Ia bekerja sendiri, serimg disebut sebagai Lone Wolf.


Lone Wolf adalah para simpatisan yang tidak terikat jarigan terorisme baik lokal maupun global. Mereka terinspirasi, belajar sendiri dan bekerja sendiri dengan motif hanya membenci.

Entah kenapa, saya merasa model serangan dengan senjata tajam yang membabi buta seperti yang terjadi di gereja Lidwina Sleman ini, ke depannya akan meluas mengincar keramaian dimana saja berada. Di pasar, di transportasi publik dan di dalam acara yang mengundang massa.

Seruput...