Sabtu, 10 Februari 2018

NGUSTAD SUGIONO DAN SURGA CALIGULA

Seks
Sugiono

Bagaimana cara seorang Professor menjelaskan teori Kuantum kepada anak SD?

Sulit bukan? Karena memang kapasitas pemikiran seorang anak SD jauh berbeda dengan kapasitas seorang Professor yang sudah menjelajahi begitu banyak ilmu.


Jadi, yang dilakukan Professor adalah menjelaskan secara sederhana melalui analogi-analogi pengandaian dengan menggunakan benda-benda yang dikenal anak SD. Tujuan si Profesor tentu supaya anak SD mengerti dan bisa belajar lebih banyak lagi.

Begitulah apa yang dilakukan Nabi-nabi pada umatnya disaat masa kebodohan pada puncaknya. Mengajarkan kebaikan tentu dengan cara dan pengetahuan yang sesuai zamannya. Begitu juga bahasa dan redaksi katanya.

Maka wajar kalau kitab-kitab suci berbunyi pengandaian-pengandaian dalam menjelaskan tentang hal-hal yang tidak dimengerti manusia pada masa itu. Begitu juga tentang konsep surga, neraka, malaikat, bidadari digambarkan dengan pengandaian dari wujud yang dikenal manusia pada zamannya.

Saya suka mengandaikan bahasa kitab suci dahulu dengan begini:

Pada tahun 80’an, ibu saya mengirim uang melalui kantor pos dan sebuah surat, “Nak ibu kirim pake wessel ya..” Wessel adalah surat berharga yang diterbitkan kantor pos sebagai bukti transaksi ketika Perbankan belum begitu modern spt sekarang ini.

Dan surat itu saya baca kembali di tahun 2018...

Tentu redaksinya masih tetap sama, tapi siatem perbankan sudah sangat canggihnya sehingga kita mengenal M-Banking sebagai transaksi. Wessel sudah ditinggal saat ini.

Jadi bukan salah redaksi kitab sucinya karena itu tertulis tentu dengan bahasa zamannya. Yang salah adalah penafsiran manusia yang salah menempatkan pemahaman terhadap konteksnya.

Itulah kenapa saya cekikikan ketika Ngustad Tenkyu bercerita tentang surga layaknya di film Caligula. Teks dahulu dipahami dengan konteks sekarang, dimana sudah banyak ilmu dalam memahami penjelasan yang dulu sederhana.

Anak SD yang dahulu, ketika besar seharusnya otaknya sudah mahasiswa dan cara memahami sesuatu jelas berbeda. Teori Kuantum yang dulu diajarkan sudah harus dipahami dengan teori-teori, rumus-rumus dan logika, bukan lagi pengandaian-pengandaian.

Si Ngustad mungkin bermimpi jadi Kakek Sugiono yang dulu dikenal sebagai pemain blue Jepang tertua. Dikelilingi gadis-gadis muda cantik dan berperan sebagai penunggang kuda yang gagah perkosa.

Ia menyimpan hasrat yang dalam karena bininya galak tak terkira. Jangankan mau mendekati gadis muda, melirik aja bakiak melayang di udara. Jadilah ia mengembangkan imajinasinya sendiri sambil merogoh-rogoh dalam gamisnya. Crat crit crut kembang kuncup..

Ahhh, jadi pengen ngopi pagi-pagi melihat bahwa ternyata kebodohan itu tidak ada batasnya. Kakek Sugiono bangkit dari kuburnya, menjelma menjadi lebih syariah..

Tobatlah, nak..