Senin, 12 Februari 2018

SENJATA MELAWAN INTOLERANSI


Keberagaman
Konferensi Wali Gereja Indonesia
"Sudah tidak perlu lagi baksos dengan membawa bendera sekarang ini.."

Saya kebetulan diundang dalam Konferensi Wali Gereja Indonesia sebagai pembicara. Kami berdiskusi tentang menjadi agen toleransi dalam kondisi bangsa yang majemuk. Banyak Romo yang hadir dari hampir seluruh wilayah Indonesia disana..


"Sekarang ini narasi-narasi intoleransi sedang dimainkan oleh beberapa pihak dalam momen Pilkada. Mereka sedang mencari celah untuk menaikkan tensi dan salah satu momen yang ingin mereka mainkan adalah isu Kristenisasi.."

Saya menyeruput kopi yang disediakan diatas meja. Ada dua isu besar yang akan digerakkan untuk membangun ketakutan, pertama isu intoleransi dengan memecah kerukunan umat beragama dan isu PKI dengan membangun propaganda bahwa PKI sekarang sedang menyerang ulama.

"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?", tanya seorang Romo dalam pembicaraan.

"Kita harus lebih cerdik memainkan kartu-kartu kita. Buang sekat-sekat keagamaan kita ketika terjun ke dunia sosial. Dengan begitu tidak ada celah bagi mereka untuk membenturkan kita atas nama agama..."


Saya terdiam sebentar dan melanjutkan..

"Dan senjata utama kita untuk melawan mereka adalah SILATURAHMI. Perbanyak silaturahmi dengan mengunjungi pesantren-pesantren dan pererat persaudaraan.

Silaturahmi adalah rantai yang hilang sekarang ini yang menjadi kekuatan bangsa kita dahulu, sehingga semua agama menaruh egonya diatas meja untuk menjadi satu kesatuan negara.

Dengan silaturahmi, kita akan meredam isu-isu yang ingin mereka mainkan. Dan ketika bersilaturahmi, usahakan ada sentuhan-sentuhan fisik seperti saling bergandeng tangan, saling memeluk dengan memakai jubah keagamaan masing-masing. Dan viralkan melalui media sosial..


Mereka selalu memviralkan hal yang bersifat perpecahan, kita berjuang dengan memviralkan kebaikan-kebaikan.."

Semua diruangan itu mengangguk. Ada persetujuan tanpa perlu diucapkan, bahwa kita bersama akan menggali kembali apa yang pernah dilakukan oleh pendahulu kita dimasa lalu.

Saya menyeruput secangkir kopi yang sudah mendingin. Perjuangan masih sangat panjang dan medannya semakin sulit.

Hanya satu yang kami yakini bersama, bahwa Tuhan menghitung tiap-tiap usaha dalam sebuah proses sebagai amal, karena hasil adalah hak mutlakNya.

Seruput...