Sabtu, 10 Februari 2018

SI NGUSTAD DIKEROYOK BIDADARI

Seks
72 Bidadari

“Bang, kalau pria dapat bidadari di surga, trus aku yang wanita dapat apa? Bidadara?”

Pertanyaan itu sejak dulu memang menggelikan. Konsep “bidadari” sejak lama memang diidentikkan dengan gender wanita, padahal sejujurnya tidak ada yang tahu bagaimana bentuk bidadari sebenarnya, sama seperti kita tidak pernah tahu bagaimana wujud malaikat.

Lalu kenapa Nabi membahasakan bidadari sebagai wanita?

Untuk membahas ini kita harus kembali ke ratusan tahun lalu saat bangsa Arab masih jahiliyah, bodoh dan barbar pada puncak-puncaknya. Pada saat itu datanglah Nabi membawa ajaran keselamatan.

Bangsa Arab dulu -dan jejaknya masih sampai sekarang- menganut superioritas lelaki dimana wanita kebanyakan hanya menjadi budak dan tempat kesenangan.
Bahkan sejarah mengabarkan, pada masa itu bayi perempuan pun dibunuh dengan dikuburkan hidup-hidup karena memalukan dan tidak membawa kebanggaan.

Para lelaki yang biasanya menjadi pemimpin klan itu hanya mengenal tiga hal, harta, tahta dan wanita. Semua itu adalah simbol status sosial.

Lalu bagaimana seorang Nabi mengajarkan mereka tentang kebaikan? Tentu dengan mengabarkan ada “reward” yang akan mereka dapatkan. Reward itu berupa surga yang indah yang akan menjadi tujuan akhir manusia.

Dan begitulah surga dibahasakan, dengan bahasa materi sesuai apa yang mereka kenal pada masa itu, berisi sungai yang jernih, pepohonan, emas permata dan segala hal yang indah.

Sama seperti ketika orangtua berbicara pada anaknya yang kecil, “Nanti kalau adek baek dan nurut, mama kasih hadiah boneka ya..” Gak mungkin si adek perempuan dijanjikan PS4, karena di usianya yang balita, boneka adalah sebuah kemewahan.

Begitulah bidadari dibahasakan dalam bentuk gender wanita, karena itu termasuk kesenangan para lelaki bangsa Arab yang barbar dan ngacengan masa itu. Gak mungkin dijanjikan pesawat terbang, karena mereka belum mengenalnya.

Bidadari dan Malaikat jelas tidak akan menyerupai sosok apapun di dunia materi ini. Bahasa-bahasa seperti “sayap malaikat” adalah bahasa pendekatan, bukan sayap seperti yang kita kenal sekarang ini. Bahkan di dunia ini, antara sayap burung dan sayap pesawat sudah beda bentuknya, apalagi di dunia non materi seperti akhirat.

Karena itu lucu juga ketika ngustad Tengkyu menggambarkan kenikmatan seks surga di tweetnya. Bahkan dengan pede ia mengatakan, bahwa bidadari itu tergantung variannya sesuai siapa yang kamu taksir di dunia.

Ratusan tahun berlalu dan ternyata tidak mengembangkan otak si ngustad. Ia berfikir sama seperti orang Arab Jahiliyah waktu itu yang harus dibahasakan dengan sangat sangat sederhana terhadap reward di akhirat. Padahal sekarang ada ilmu-ilmu filsafat yang bisa membahasnya seperti ontologi atau epistimologi.

Karena sangat ngacengnya, sang Ngustad bahkan meyakini bahwa ada “nafsu seks” di akhirat sana, padahal nafsu itu bersifat ragawi. Wong raganya sudah tidak ada kok nafsunya masih berkeliaran mencari mangsa.

Baca tweet-tweetnya si Ngustad Tengkyu itu saya cekikikan sendiri malam-malam.

Udah bangkot gitu masih aja mikirnya “dikeroyok” ribuan bidadari sambil celup sana celup sini.

Entah dia dulu naksir siapa aja, mungkin juga menbayangkan Asia Carrera sampai Miyabi berwujud bidadari yang akan memecutnya “cetarrrr” sambil teriak, “berguling!!” dan si Ngustad ngos-ngosan menjulurkan lidah tanpa henti.

Tad, wong cuman bisa ngendus-ngendus doang sok-sok an gagah dikeroyok 12 ribu bidadari. Disentil dikit aja langsung crit kemana-mana.
Ngupi dulu Tad, biar sehat..