Selasa, 27 Maret 2018

AHOK KALAH

Sidang PK Ahok
Pendukung Ahok

Terdengar kabar sayup dari kejauhan. "PK Ahok ditolak MA.."

Berita yang entah kenapa tidak begitu mengagetkan, meski sempat timbul secercah harapan. Harapan terbesar muncul ketika Hakim MA dipimpin oleh Artidjo Alkostar, yang terkenal dengan gempuran palunya terhadap para koruptor yang ingin membebaskan dirinya, tapi malah terperangkap lebih lama dalam penjara dan miskin selamanya.

Tidak ada alasan atau setidaknya belum ada kabar alasan kenapa Hakim Artidjo dan kawan-kawannya bulat menolak PK Ahok. Beritanya hanya ditolak, begitu saja. Dan suasanapun kembali seperti sedia kala, tidak ada tangis dan tidak ada kemarahan seperti sebelumnya.

Nada pasrah terdengar dari sudut-sudut gelap relung jiwa yang sebenarnya berharap ada sedikit saja cahaya. Tapi dari sisi yang lebih dalam lagi, mereka juga takut akan dampak yang terjadi ketika Ahok menghirup udara bebas kembali sebelum masa pilihan raya.

"Sudahlah, kita doakan saja ini keputusan yang terbaik untuk kita semua.." Mereka tidak sepenuhnya menyalahkan Hakim Artidjo, karena ia sudah berbuat banyak untuk negeri ini. Mungkin Tuhan punya maksud lain, meninggalkan jejak yang menyakitkan, sayatan luka, betapa masih jauhnya keadilan negeri ini.

Dari ruang lain, ada suara tertawa keras karena Ahok tidak jadi bebas. Mereka juga bersyukur kepada Yang Kuasa karena Ahok masih dipenjara.

Dua kubu sama-sama meminta yang terbaik dan Tuhan sudah memilih melalui palu sang Hakim. Tidak ada kata tengah. Hitam atau putih, itu pilihannya.

Meski begitu saya yakin bahwa dalam kekalahannya di dunia, Ahok sesungguhnya menang banyak dalam pengumpulan poin nilai daripada kebanyakan manusia. Ketidakadilan, jika itu memang benar adanya, adalah emas bagi mereka yang menerimanya dengan ikhlas.

Setidaknya, nukilan percakapan Nyai Ontosoroh dan Minke pada Bumi Manusia, karya Pramudya Ananta Toer, bisa menggambarkan kepedihan yang dalam dari para pencari keadilan..

"Kita kalah, Ma," bisik Minke.

Nyai Ontosoroh menjawab, "Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya."

Secangkir kopi menemani gerimis yang turun perlahan bagai titik airmata yang tertahan disudut kerlingan..