Sabtu, 17 Maret 2018

CAK IMIN EVERYWHERE


PKB
Cak Imin
Hari demi hari saya ketika membaca media online, ada satu nama yang sering muncul. Yaitu, CAK IMIN..

Cak Imin - bukan saudaranya Cak Norris - begitu gencar menampilkan sosok dirinya dimana-mana. Bahkan banyak baliho besar yang menampilkan wajahnya yang baby face - krik krik - di pinggir jalan. Entah berapa eM yang dia keluarkan hanya untuk promo dirinya.

Tujuannya satu, yaitu jadi Calon Wakil Presiden. Agak aneh memang, dimana-mana orang berlomba jadi Capres, eh cak Imin cukup jadi cawapres.

Kenapa Cawapres ? Karena cak Imin mungkin tahu bahwa jadi Capres itu berat, biar Dilan saja.. eh. Karena itu yang paling mungkin adalah Cawapres. Disini kita bisa ambil positifnya, bahwa sikap tahu diri itu sungguh berharga..

Bahkan cak Imin dengan pedenya berkata, "Jokowi kalau tidak ambil saya jadi Cawapres, rugi !" Seolah-olah cak Iminlah nanti penentu kemenangan Jokowi, bukan sebaliknya.

Saya tidak tahu apakah survey sudah menempatkan nama cak Imin setinggi Jokowi sehingga Jokowi rugi jika tidak berpasangan dengannya.

Cak Imin ini khas pemimpin baliho. Ini adalah sebutan bagi calon pemimpin yang wajahnya banyak muncul mendekati waktu pemilihan. Seakan-akan dengan baliho, masyarakat akan langsung mengingat dirinya ketika berada di tempat pemilihan.

Saya sendiri tidak tahu, kemana cak Imin beberapa tahun belakangan ini ? Tidak tampak dirinya, prestasinya, kerjanya, gerakannya. Mendadak, wajahnya ada dimana-mana.

Banyak model pemimpin seperti cak Imin ini. Membeli ingatan masyarakat dengan uang, dengan menampilkan wajah di setiap ruang. Karena berhitung bahwa ingatan masyarakat pendek, maka cukup muncul di injury time.

Padahal seharusnya cak Imin tahu, bahwa ingatan masyarakat orde sekarang ini panjang. Mereka akan terpaku ketika membaca prestasi dalam perjalanan yang panjang. Masyarakat era media sosial ini senang model "story telling" bukan iklan. Mereka sudah terbiasa men-skip kalau ada pop-up yang menghadang.

Jadi apa yang dilakukan cak Imin ini, menurut saya, adalah kesia-siaan. Karakter Jokowi tidak akan memilih pendamping yang senang iklan. Ia pasti mencari tipe pekerja, profesional, yang bisa seirama dan tidak sering muncul di media jika tidak ada urusan.

Jokowi tidak akan memilih seorang politisi, karena ia sudah cukup sibuk berhadapan dengan model itu beberapa tahun belakangan ini. Jika terpilih lagi, Jokowi pasti punya urusan menuntaskan apa yang sudah ia kerjakan. Dan ia membutuhkan orang yang paham apa yang harus ia lakukan..

Tapi ada juga sisi bagusnya dengan munculnya baliho cak Imin dimana-mana. Setidaknya seorang driver online bisa menjawab ketika ditanya penumpangnya seorang bule yang terheran2 dengan sosok wajah dimana2 yang dipikirnya, "pasti orang terkenal.."

"Who is Muhaimin ?" Tanya si Bule.
Dengan gagah driver online menjawab dengan english pas2an. "Muhaimin is Kandar.."

Seruput kopi dulu ah...

www.baboo.id