Selasa, 06 Maret 2018

CEBONG & KAMPRET

Prabowo
Cebong

Saya kurang paham sejak kapan istilah cebong dan kampret populer di media sosial..

Memang sejàk pilpres 2014, ada dua kubu besar yang terbelah. Satu pendukung Jokowi dan satunya lagi Prabowo.

Kalau tidak salah, istilah cebong mulai digunakan sejak ada vlog Jokowi yang melempar cebong2 ke kolam. Sejak itulah pihak pendukung Prabowo selalu menggunakan istilah "cebong" untuk mengejek pendukung Jokowi. Buat mereka cebong itu kecil dan gada otaknya.

Menariknya, dari ejekan itu, istilah cebong malah menjadi status kegembiraan. Para pendukung Jokowi ini memang terkenal sebagai orang yang selalu bahagia. Apapun dijadikan candaan. Bahkan ketika hendak mengkritik tokoh, mereka memainkan satir bukan makian..

Beda lagi ma kampret..

Istilah kampret ini pun saya tidak tahu kapan mulainya. Perasaan Prabowo melihara kuda, bukan kampret. Harusnya kuda yang sijadikan bahan olokan.

Tapi mungkin kuda terlalu manis, akhirnya kampret lah yang terpilih. Saya tanya ke teman, kenapa sih kamu juluki si A kampret? Dia jawab, "habis otaknya kebalik2, mungkin karena gaya tidurnya yang terbalik.." Lagian, katanya, kampret kalo keluar selalu malam, kalau siang tidur sambil ngemut buah curian.

Saya senang aja ada istilah dalam olok2an. Jadi teringat lagi waktu kecil sering memanggil teman dengan nama panggilan. Ada yang saya panggil Sempak, karena dulu pernah salah pake sempak emaknya ke sekolah..

Tapi memang si kampret ini agak berbeda. Mereka kerjaannya kalau gak caci maki, ya marah2. Saya pernah masuk di grup mereka, serius banget disana. Garing lagi guyonnya. Saya kebayang duduk di tengah2 mereka, pasti gusi saya kering karena terpaksa nyengir meski gada lucu2nya, demi menghormati aja.

Kampret ini julukan utama, karena julukan tambahannya ada bumi datar, micin curah sampe kolor ijo segala. Kayak tahu aja warna kolornya..

Dan istilah cebong dan kampret ini akan terus kita dapatkan bahkan sesudah Pilpres 2019. Kalau yang satu menang, yang kalah akan jadi oposisi. Begitu terus sampe nasi rawon berwarna merah..

Yah kita nikmatin ajah. Seperti saya yang nikmatin menulis ini diatas gojek di perempatan mampang yang naudzubillah macetnya..

"Bang Denny Siregar, ya ?" Kata drivernya menyapa.
"Kok tahu ?"
"Hapal saya mukanya.."
"Cebong pa kampret ?" Tanya saya.
"Cebong dong bang.." katanya bangga.

Lalu ia pun bercerita panjang lebar tentang kampret sambil meliuk2 di tengah kemacetan. "Pret tak kampret kampret.. pret kampret.. preeett.. " Saya cuman bisa dengar begitu doang, soalnya dia pake helm teropong.

Saya ngebayangin kopi di rumah. Duh, nikmatnya...