Selasa, 06 Maret 2018

DAMAI ALA BANG SANDI

Pilkada
Sandiaga Uno

Dari semua pilkada seluruh Indonesia, kita memang harus berkaca pada Pilgub Jakarta. Karena disanalah pilgub terdamai sepanjang masa.

Bagaimana tidak damai?

Baru di Jakarta saat pilgub, orang meninggal diharuskan shalat sendiri. Ini tentu meringankan beban tetangga-tetangga sekitarnya yang sedang repot kampanye. Bagi para mayat, bisa disebut itu saat-saat mereka harus mandiri, berdiri diatas kain kafan sendiri..

Dan baru di Jakarta juga, ada baiat kepada kandidat pake golok dan kitab suci. Ini menandakan bahwa agama biasa dipake untuk meraih kekuasaan dan golok untuk menjaga kedamaian. "Gak damai, awas lu ya".

Atau pengen contoh damai lagi adalah saat "7 juta orang" berduyun-duyun melantunkan takbir atas nama Tuhan Yang Maha Besar, Yang Maha Penyejuk, Maha Pengasih dan Penyayang...

.. Sambil memaki-maki "anjing, babi, bunuh.." kepada salah satu kandidat yang tidak disukai. Itu masih ditambah gerakan ibadah mendorong-dorong polisi sampai membakar dan merampok rumah usaha..

Pilgub DKI memang paling damai, bang Sandi. Karena ukuran damai menurutmu adalah ketika engkau menang dengan menumpangi semua itu. Kalau kalah, tentu rasanya kurang damai, nyesek-nyesek gimana gitu.. apalagi sudah keluar miliaran rupiah untuk itu.

Jadi ingat lagu kasidahan masa lalu..

"Banyak yang cinta damai..
Tapi perang makin ramai
Bingung bingung aku pikirkan..."

Tarekkk banggg... Damai, damai.. Senggol Bacok.. Seruputt.