Sabtu, 31 Maret 2018

GAK MALU ISI PREMIUM?

Pom Bensin

Ketika sedang berada di SPBU, saya miris melihat antrian panjang mobil di tempat pengisian bertuliskan PREMIUM..

Sedangkan yang Pertalite, apalagi Pertamax, antrian jauh lebih sedikit.

Mobil-mobil yang antre mengisi Premium bukan mobil keluaran lama, apalagi jenis angkot atau kendaraan umum lainnya. Tetapi jenis mobil terbaru keluaran 2015 keatas dengan warna warni yang gemerlapan.

Mungkin mereka belum tahu bahwa Premium adalah bensin beroktan terendah diantara bbm lainnya, RONnya cuma 88.

Penggunaan Premium dalam mesin berkompresi tinggi, akan menyebabkan mesin mengalami knocking atau ngelitik. Sebab, Premium di dalam mesin kendaraan akan terbakar dan meledak tidak sesuai dengan gerakan piston. Knocking menyebabkan tenaga mesin berkurang, sehingga terjadi inefisiensi.

Dari sisi finansial, knocking yang berkepanjangan menyebabkan kerusakan piston; sehingga kendaraan bermotor harus diganti pistonnya.

Itulah kenapa seharusnya Premium dihapus dari daftar bbm yang ada. Masalahnya, kita sudah puluhan tahun menggunakan Premium tanpa tahu kenapa. Mungkin itu keuntungan buat pabrikan mobil supaya kita lebih sering ganti sparepart atau lebih cepat ganti mobil sekalian.

Premium tidak dihapuskan segera oleh pemerintah karena masih banyak penggunanya. Jika dihapuskan langsung, bisa terjadi gejolak karena kita sudah terbiasa dipersepsi jika terjadi kenaikan bbm akan memicu kenaikan di seluruh bidang.

Padahal subsidi premium itu memberatkan. Dengan kenaikan harga minyak sekarang, premium seharusnya dijual dengan angka 7000 per liter tapi harus terus disubsidi supaya harganya tetap berkisar di 6500 per liter.

Sebenarnya bahasa SUBSIDI saja sudah memalukan. Subsidi seharusnya diperuntukkan untuk masyarakat ekonomi lemah, yang bergantung pada kebijakan pemerintah untuk menyelematkan ekonominya. Bukan masyarakat yang mampu membayar cicilan mobil 3-5 juta rupiah per bulan..

Ah, mungkin benar ide seorang teman waktu itu. Supaya ada rasa malu untuk mengisi premium, seharusnya di SPBU khusus Premium ada tulisan besar-besar, "PREMIUM UNTUK MASYARAKAT EKONOMI LEMAH. ANDA EKONOMI LEMAH? SILAHKAN ISI DISINI BENSIN ANDA.."

Seperti secangkir kopi. Gak perlu gaya2an ngopi di lobi hotel bintang 5 dengan harga secangkir mencapai 90 ribu rupiah plus plus kalau ekonomi anda belum kesana. Kelas warkop, ya warkop aja. Toh nikmatnya gak jauh beda. Ada wifi ma bisa petangkringan lagi..

Seruput dulu ahhh..