Minggu, 04 Maret 2018

KANGEN KANG DEDI

Bupati Purwakarta
Dedi Mulyadi

Lama saya gak ketemu Kang Dedi Mulyadi..

Sosok yang selalu ceria dalam setiap kesempatan. Setiap bertemu dengannya, ia selalu tersenyum lebar. Ia selalu memompakan optimisme ke sekitarnya.

Meski begitu ia pekerja keras. Rekam jejaknya mulai dari menjadi anggota DPR, Wakil Bupati sampai Bupati Purwakarta menunjukkan ia seorang politikus ulung. Ia bukan seorang yang hanya muncul saat mendekati pilkada saja memanfaatkan popularitas semata, tapi ia sudah bergerilya jauh sebelum pesta dimulai.

"Gak capek apa jadi pejabat?" Tanya saya yang kelelahan seharian ketika mengikuti dia keliling beberapa tempat di Jabar. Saya kapok ikut dia, asli capek. Apa enaknya sih jadi pejabat? Saya sendiri heran.

"Menjadi pejabat itu amanah, bukan peluang.." Katanya. "Memangku amanah itu kalau kita gak punya passion pasti berat. Kalau saya memang senang ketemu rakyat, cerita-cerita dengan mereka dan kadang bisa bantu mereka. Kesenangan itu harganya gak bernilai.." Ia tersenyum lebar lagi.

Ia memang seorang filosof, yang memandang hidup dari kacamata yang jauh lebih luas dari sekedar materi.

Dedi Mulyadi adalah contoh pejabat yang sangat membumi. Ia biasa nongkrong di pendoponya dan didatangi banyak elemen masyarakat yang bukan dari Purwakarta saja.

Pada waktu saya sedang kebetulan mampir di pendoponya saat ia masih menjabat Bupati, bahkan ada rombongan dari Tasikmalaya yang minta bantuan padanya.

Dan dalam setiap pertemuan pasti ada candaan. Gak ada jarak, gak ada jaim, semua posisinya sama. Dedi mampu membuat orang jauhpun merasa dekat dengannya.

"Kenapa sih berpasangan dengan Dedi Mizwar?". Saya kesal waktu itu karena buat saya ia lebih layak menjadi Cagub. Ia tersenyum lagi, seperti memberikan kode supaya saya tenang saja.

Ah, iya. Saya lupa. Dia seorang politikus ulung. Mampu menaikkan dirinya secara berjenjang, bukan secara instan. Dan dia pasti punya strategi pemenangan yang tepat menurutnya.

"Politik itu adalah seni bagaimana memenangkan pertarungan.." Katanya dulu. "Bagaimana bisa memimpin jika sudah kalah duluan dalam pemilihan ?"

Saya kangen juga dengan sosoknya yang pasti jauh lebih sibuk sekarang. Dan seperti dirinya, ia tidak akan ditemui di cafe-cafe, di mall-mall, di gedung-gedung yang nyaman. Ia pasti sedang ada di pelosok desa-desa terpencil yang bahkan wc umum pun seadanya. Ia senang ada disana.

Apa kabar, kang Dedi? Kapan kita ngopi lagi?