Selasa, 13 Maret 2018

Kenapa Seorang Felix Siauw Lebih Terkenal dari Gus Mus?

Tokoh NU
Gus Mus

Itu pertanyaan teman saya, seorang Kristen, ketika kami sedang ngopi bersama. Sengaja saya sebut agamanya karena ia sedang mempelajari Islam dari wajah saya yang katanya moderat.

"Ukuran terkenal darimana?" Tanya saya. Dia pun membeberkan jumlah follower Felix Siauw yang bisa mencapai 4 jutaan di facebook saja. Belum lagi setiap kali Siaw buat status, yang ngeshare ratusan.

Bandingkan dengan Gus Mus yang followernya hanya 200 ribuan. Dan yang shares setiap statusnya hanya puluhan.

Ah, begitu rupanya. Saya pun tersenyum sambil seperti biasa menyeruput kopi yang dia belikan untuk saya. Ada hukum yang tidak tertulis disini, kau yang bertanya kau yang membayari.

"Kalau ukuran terkenal dilihat dari jumlah follower dan shares di medsos saja, artis alay di tipi itu kurang terkenal apa. Followernya jutaan, bahkan jauh di atas Siauw. Siauw gada apa-apanya. Bahkan Siaw lebih gada apa-apanya dibandingkan Gus Mus.."

"Loh kok bisa?" Tanya temanku. "Kan angka berbicara..". Aku ketawa saja. "Ya bolehlah kalau angka di medsos. Tapi tahukah kamu, bahwa Gus Mus sangat dihormati di NU? Dan tahukah kamu jumlah anggota NU? Antara 60 juta sampai 80 juta nahdliyin di seluruh wilayah Indonesia. Mereka kenal Gus Mus dan cinta Gus Mus. Mereka banyak yang gak kenal Siauw apalagi mencintainya...

Nah, kira-kira besaran mana follower Gus Mus ma Siauw?" Tanyaku.

Saya lalu menjelaskan bahwa apa yang Siauw ajarkan sesungguhnya adalah bahasan-bahasan pop yang miskin logika. Tentang pacaran, tentang selfie dan hal-hal kekinian yang ringan tanpa meninggalkan arti yang mendalam.

Dan itu disukai remaja kekinian juga yang suka beragama dengan instan. Cukup mengaji dan senang ketika fatwa halal haram dikeluarkan. Lebih mudah bagi mereka mencernanya daripada berurusan dengan makna-makna yang membutuhkan kedalaman pikiran.

Wajar saja, wong Siauw baru kenal Islam tahun 2000an. Apa yang bisa diharapkan dari seseorang yang sedang belajar agama trus mendadak didaulat jadi pengajar agama?

Itu seperti anak kelas 5 SD yang dipaksa mengajar anak kelas 1 SD. Ya, pengetahuannya sekitar permukaan saja. Konstruksi berfikirnya belum benar karena itu yang keluar dari bibirnya hanya kulit-kulit luarnya saja.

Bandingkan dengan Gus Mus yang sudah belajar kemana-mana selama puluhan tahun lamanya. Beliau Profesor dalam ilmu agama. Dan keilmuannya diakui oleh orang-orang berilmu lainnya, bukan dengan orang-orang yang level dibawahnya..

"Bedakan antara mencari pengakuan dan diakui.." Kata saya. "Seorang Gus Mus sudah diakui dan tidak perlu mencari pengakuan lagi. Sedangkan Siauw masih harus terus mencari pengakuan dari orang-orang yang tidak mengerti, karena disanalah dirinya eksis..."

Temanku mengerti bahwa ada hal yang tidak diketahuinya yang jauh lebih besar daripada apa yang diketahuinya. Itu juga menjawab pertanyaannya bahwa apa yang dilakukan segelintir orang dengan membawa nama Islam, sama sekali bukan representasi Islam keseluruhan yang jauh lebih besar.

"Itu hanya curut-curut yang ingin tampil demi isi perutnya.." kata saya ketika ia dulu bertanya tentang kenapa Islam bisa radikal.

Saya lihat dia puas dengan jawaban saya dan untuk itu harus ada bayarannya. "Bu, kopinya tambah satu lagi dan jangan lupa tahu isinya digoreng lagi.."

Bibir temanku cemberut..