Senin, 05 Maret 2018

SEKELAS JAWA POS, MEN?

Jawa Pos
Jawa Pos

Saya pernah kerja di sebuah radio berita..

Karena radio berita, maka isinya mayoritas adalah berita. Dan radio tempat saya bekerja punya banyak sumber berita selain menurunkan reporter di lapangan.

Sebelum resmi terlibat penuh, kami diajarkan prinsip jurnalistik yaitu 5W 1H (Who, what, where, when, why and how). Prinsip ini harus diketahui dulu sebelum sebuah berita diluncurkan.

Untuk menjaga prinsip itu, ada yang namanya Redaktur. Dia yang bertanggung-jawab terhadap bagaimana dan kapan sebuah berita naik untuk disiarkan. Tidak bisa seenak udelnya wartawan. Bahkan sebelum mengambil beritapun, sudah ada briefing berita apa yang akan dinaikkan..

Pada skala kecil, kebayang rumitnya kinerja sebuah radio berita. Apalagi media nasional sekelas Jawa Pos..

Makanya saya ketawa keras ketika Jawa Pos dengan "tega-teganya" mengambil berita hanya dari sumber sebuah cuitan yang tidak jelas lagi akunnya.

Mulai dari Who sampai How nya sama sekali tidak terpenuhi, bagaimana bisa berita sampah itu bisa dimuat di media yang pernah dikatakan sebagai media dengan oplah terbesar se Indonesia?

Saya tidak mau membahas tentang kepemilikan media yang katanya sudah dijual Dahlan Iskan itu, dan kemana condong arah poltiiknya. Tapi sekelas Jawa Pos?? please dong ah..

Kalau itu media macam puyengan ataupun blogspot murahan, okelah. "Ini Jawa Pos, men!" Temanku yang pembaca setia media ini sejak dia kecil berteriak histeris, tidak percaya bahwa apa yang dia percayai selama ini runtuh dalam satu momen saja.

Ya, media itu kepercayaan. Itu yang ditanamkan sejak dulu oleh pimpinan radio kecil tempat saya bekerja. Media harus melakukan "cover both side story" atau istilah sinetronnya cek dan ricek.

Media tidak boleh termakan isu ataupun membahas sebuah isu yang tidak jelas sumbernya. Karena "sekali lancung ke ujian, seumur hidup pembaca tidak akan percaya.."

Jadi, saya yakin, apa yang terjadi dengan peristiwa media sebesar dan sekelas Jawa Pos yang mengambil sumber berita hanya dari cuitan di twitter dari akun yang tidak jelas pulak jenis kelaminnya, akan menjadi pembelajaran besar bukan hanya bagi Jawa Pos, tapi juga dari banyak media yang masih mengandalkan kredibilitasnya.

Karena sebuah media tanpa reputasi, sama seperti seorang yang kemana-mana atasannya pake jas, tapi bawahnya gak pake celana. Telanjang tanpa disadarinya. Ia ingin tampak bagus di mata orang, tapi orang sudah kadung tidak percaya.

Bahkan sebuah permintaan maaf saja tidak cukup. Bayangkan waktu yang harus dibangun kembali oleh media sekelas Jawa Pos untuk merebut kembali kepercayaan pembacanya.

Karena kalau pembaca hilang, maka hilang pulalah iklan sebagai sumber utama pendapatannya..

Minum kopi dulu, media yang dulu pernah menemani hari-hari kecilku...

Seruput...