Rabu, 11 April 2018

CATUR PILPRES 2019

Gaduh Politik
Prabowo dan LBP

Seorang teman bertanya, "Bang, ada apa LBP kemaren ketemu dengan Prabowo?"

Senang dengarnya, ayo kita seruput kopi sambil main catur politik..

Semua berkaitan dengan terbelahnya internal Gerindra menjelang Pemilu. Kubu pertama adalah kubu Fadli Zon, yang berharap Prabowo tetap mencalonkan diri. Sedangkan kubu kedua adalah kubu Desmond J Mahesa, yang mendukung Gerindra mencalonkan Gatot Nurmantyo sebagai Capres.

Sejak awal, Desmond selalu berbicara di depan pers bahwa Prabowo merasa sudah tua, kurangnya elektabilitas dan lain-lain. Sedangkan Fadli Zon tetap bersikukuh bahwa Prabowo masih siap bertarung di Pilpres.

Dan situasi ini makin diperkeruh oleh PKS, yang terlihat ingin Gatot menjadi Capres koalisi Gerindra-PKS. Itulah kenapa mereka sibuk dengan tagar #GantiPresiden daripada #PrabowoPresiden.

Kenapa PKS begitu ? Tentu ini berkaitan dengan logistik yang menurut bisik-bisik tetangga, "Gatot lebih kuat lho..."

Posisi Prabowo memang dilematis. Gerindra tidak bisa bermain sendirian, mereka hanya punya 73 kursi di DPR, sedangkan syarat untuk mencalonkan Presiden haruslah 112 kursi. Nah, dengan PKS yang 40 kursi sebenarnya sudah cukup koalisi ini mengusung Capres.

Situasi ini dimanfaatkan PKS yang merasa diatas angin untuk menekan Prabowo supaya, "mundur saja pak.. sudah tua.." Tentu ada iming-iming yang membuat geleng-geleng kepala. Prabowo maju mundur dalam situasi ini. Mencalonkan diri sendiri tidak mungkin, karena PKS pasti berpaling.

Dan yang paling cemas tentu Fadli Zon, karena tanpa Prabowo dia bukanlah apa-apa, malah bisa ditendang oleh Desmond keluar arena.

Pada situasi yang membingungkan ini, datanglah LBP sebagai dewa penolong. Pertemuan keduanya di Grand Hyatt Jakarta menunjukkan bahwa ada kesamaan pikiran, jika Prabowo lah yang harus maju.

Bagaimana caranya ? Tentu harus mengawinkan Gerindra versi Prabowo dengan partai lain selain PKS. Ada PKB, dimana Cak Imin ngebet banget jadi Cawapres.

Dengan modal PKB 47 kursi, jika digabungkan dengan Gerindra, cukuplah bisa mencalonkan Prabowo & Cak Imin sebagai Capres dan Cawapres 2019. Akhirnya cita2 cak Imin jadi Cawapres akan terlaksana.. duh, senangnya.

Dan jika begitu adanya, tentu PKS akan gigit celana. Mereka akan sibuk mencari koalisi selain Gerindra. Tapi berat karena dengan PAN tidak akan cukup kursi. PKS dan Demokrat juga tidak cukup, kecuali mereka gabung bertiga. Tapi dengar2 nih, Demokrat sudah akan gabung ke Jokowi..

Kalau permainan catur ini berhasil, maka lawan tanding Pilpres 2019 tetap Jokowi vs Prabowo. Sedangkan Gatot harus mundur teratur dulu karena tidak cukup suara untuk diatur. PKS akan semakin terbelah di internal karena pihak Anis Matta semakin punya bukti bahwa PKS di tangan Shohibul Iman semakin lemah..

Begitulah politik. Kadang jalannya seperti persaingan ketat Rossi vs Marquez di arena. Tapi jika untuk kepentingan, maka bisa saja mereka berdua saling mengamankan posisi bersama.

"Lalu siapa yang paling gigit jari kalau ini terjadi, bang ?" Tanya temanku.

Kuseruput kopiku sambil nyengir, "Ya yang di Saudi. Dia pengennya gagah muncul di 2019 nanti. Tapi apa daya, dia mungkin sedang merobek-robek boneka Berbie sambil teriak dan menangis, masak gua disini sampe lima taun lagiiiiii... Huaaaaaaaa huaaaa.."