Sabtu, 14 April 2018

HENDROPRIYONO: SAYA SUDAH SELESAI

Hendropriyono
Hendropriyono

Saya ingat, setahun lalu saya dipanggil untuk bertemu seseorang. Namanya membuat hati saya bergetar, AM Hendropriyono. Seorang Jenderal dengan kemampuan intelijen yang diakui dan juga penuh kontroversi. Beliau ternyata suka juga membaca tulisan saya dan ingin berdiskusi tentang banyak hal.

Pertemuan berjalan hangat dan meruntuhkan semua persepsi angker tentangnya. Hendropriyono ternyata adalah seorang yang hangat, terbuka, spontan dan sangat blak-blakan. Bahasanya sangat jujur, bahkan saking jujurnya, hal yang pahitpun bisa ia ungkapkan dan membuat saya terbahak membenarkan. Menyenangkan berdiskusi dengannya..

Lama saya tidak bertemu dengannya dan mendengar beliau akhirnya mundur dari dunia politik..

Hal yang terakhir dilakukannya adalah mengawal partainya, PKPI, yang sempat tidak diloloskan oleh KPU untuk menggugat di pengadilan. Dan mereka menang. Lolosnya PKPI sebagai partai peserta Pemilu 2019, sekaligus sebagai tonggak mundurnya beliau dari dunia politik..

Hendropriyono sangat mudah jika ia ingin jabatan di pemerintahan. Beliau adalah pendukung Jokowi sejak awal dan dikenal sebagai salah satu "ahli strategi" dibalik pemerintahan sekarang, termasuk rumour bahwa ialah yang membuka jalan dan mengajukan Tito karnavian sebagai Kapolri karena keresahannya akan situasi negeri yang terbawa panasnya hawa konflik global.

Tetapi ia tidak mau. Posisi menteripun tidak diterimanya. Ia adalah pemain belakang layar. Ia otak, bukan tangan..

Di usianya yang menuju 73 tahun, Hendropriyono sudah punya segala-galanya. Ia pebisnis sukses dengan kehidupannya yang tenang. Ia adalah buku sejarah bangsa ini yang harus selalu dibuka dan dipelajari. Ia punya banyak cerita untuk didengarkan. Duduk bersamanya seperti berada pada masa awal negeri ini berjalan pasca kemerdekaan..

"Bagaimana dengan pembunuhan Munir, pak ?" Tanyaku waktu itu. Ia tersenyum pahit. "Kalau ada yang terbunuh, pasti nama saya yang selalu dimunculkan.." Aku menatapnya, mencoba menggali kotak rahasia yang terpendam dalam hatinya. Tidak bisa, kotak itu terlalu dalam tersimpan, tak mampu kujangkau..

Hendropriyono, dengan segala sisi kontroversialnya yang beliau nikmati sebagai bagian dari cerita misteri tentang dirinya, mengumumkan bahwa sudah waktunya ia menghabiskan waktu bersama keluarga besarnya.

"Saya sudah selesai. Biarlah yang muda yang meneruskan. Saya cukup mengawal politik sampai disini..." Begitu poin pesannya.

Tidak banyak orang yang tahu kapan dirinya selesai. Banyak yang terus sibuk dengan menghabiskan masa tuanya untuk mendapat jabatan. Dirinya haus untuk selalu tampil dan mendapat perhatian.

Hendropriyono tidak begitu. Ia tahu kapan saatnya menghilang. Seperti kata Jenderal Mc Arthur, "Old soldiers never die, they just fade away.."

Akhir cerita seorang Hendropriyono persis seperti kisah akhir dalam buku cerita Lucky Luke. Yang menghilang sendirian, disaat semua sedang berpesta kemenangan. "I'm a poor lonesome cowboy. I've a long long way from home..."

Kapan-kapan saya ingin ngopi lagi dengan beliau. Seruput...