Selasa, 10 April 2018

Jokowi, Memimpin dengan Cinta

Jokowi
Jokowi

Pemilihan Walikota berlangsung. Beramai-ramai orang menuju TPS. Tetapi banyak juga yang diam di rumah.

Penduduk Solo apatis dengan pemilihan Walikota yang mereka perkirakan tidak merubah apa-apa. Apalagi melihat nama-nama peserta yang kebanyakan 4L, lu lagi lu lagi. Angka golput mencapai hampir 30 persen.

Pada situasi itulah Jokowi terpilih menjadi Walikota. Ia terpilih mungkin karena bagian dari perlawanan masyarakat Solo juga. "Mending milih si wajah ndeso, biar rusak sekalian Solo.."

Tapi Jokowi melawan anggapan itu. Ia membenahi Solo mulai dari birokrasinya sampai penataan kota. Solo dijadikannya kota pariwisata berbasis MICE (meeting, incentives, conferencing & exibitions). Dia paham potensi Solo sebagai kota hub penting di Jawa Tengah. Dia membangun infrastrukturnya...

Prestasi terhebatnya adalah ketika memindahkan pedagang kaki lima di Banjarsari. Pedagang yang keras kepala itu tidak mau pindah dari lokasi strategis di Solo.

Jokowi melakukan pendekatan humanis dengan menemui mereka terus menerus selama 7 bulan. Mereka diajak makan di balaikota, diangkat derajatnya dan diorangkan. Tahu berapa kali Jokowi bertemu mereka? 54 kali, saudara-saudara. Sebuah potret kesabaran yang luar biasa yang tidak semua pemimpin mampu melakukannya.

Prestasi memindahkan para PKL ini terdengar ke seluruh sudut kota. Bahkan ke seantero nusantara. Sebuah prestasi besar ditengah gempuran kekerasan pemindahan PKL dari tengah-tengah kota.

Hasilnya? Pada pemilihan kedua, di tahun 2010, Jokowi meraup suara masyarakat 90 persen lebih. Kemenangan mutlak ditangannya.

Apa sebenarnya yang dimenangkan Jokowi?

Hati. Ia telah memenangkan hati masyarakat Solo. Ia memimpin dengan cinta dan mendapat cinta.

Ini yang harus dipelajari oleh lawan politik Jokowi yang masih saja memakai lagu lama dengan menakut2i masyarakat melalui isu PKI, Indonesia bubar di 2030, serangan terhadap ulama dan lain-lain. Mereka tidak berusaha merebut cinta masyarakat pada Jokowi. Bahkan semua serangan lawan politik kepada Jokowi malah menaikkan kadar kecintaan padanya.

Jokowi adalah seorang pencerita, story teller. Rekam jejaknya adalah kekuatannya. Ia bukan tipe pemimpin yang hanya muncul ketika saat pemilihan tiba. Ia tidak menghiasi ruang publik dengan bilboard berisi fotonya, ruang televisi dengan wajahnya. Ia hadir di hati masyarakat dengan bukti kinerja nyatanya..

Melawan Jokowi dengan kaos dan mug adalah tanda kepanikan karena lawan politik Jokowi jujur tidak tahu harus berbuat apa. Masyarakat sudah tidak bodoh, mereka sudah tahu harus berbuat apa..

Lihatlah saat Jokowi sedang touring di Sukabumi. Rakyat berebut hendak menyentuh tubuhnya, meneriakkan namanya, menaruh harapan padanya. Kabar bahwa ia seorang pemimpin yang adil jauh lebih mempunyai pengaruh daripada propaganda hitam bahwa ia penghianat bangsa..

Mengalahkan cinta rakyat pada Jokowi, harus dengan cinta juga. Tapi apakah lawan politik Jokowi punya cinta ketika mereka lebih sibuk memainkan propaganda hanya untuk sebuah jabatan dan kuasa?. Hanya secangkir kopi yang bisa menjawabnya.. Seruput.