Rabu, 25 April 2018

LANGKAH KUDA JOKOWI

Alumni 212
Jokowi bertemu dengan Alumni 212

Saya dapat inbox bernada gembira., "Woi cebong! Tuh lihat Jokowi merapat ke 212. Sebentar lagi Imam Besar bisa pulang dan merdeka !"

Saya ketawa bacanya...

Pertama, senang karena Imam Besar bisa pulang. Kasian juga sudah tua kelamaan diperantauan. Pasti kangen kampung halaman. Biar kita bisa dengar lagi ceramahnya dengan suara keras serak2 kebanjiran. Dan akhirnya meme-meme keren kembali bertebaran..

Saya juga ketawa karena yang inbox tidak paham bagaimana Jokowi. Seharusnya dia membaca rekam jejaknya biar mengerti..

Jokowi jauh lebih berbahaya ketika mendekat daripada ketika tidak merapat. Sejak lama ia memegang prinsip "Dekatlah pada kawanmu, tapi lebih dekatlah pada musuhmu.." Banyak peristiwa dimana Jokowi bisa menepuk bahu seseorang dengan hangat, besoknya dia ditendang dari jabatan.. Ah, gak enaklah kalau diceritakan..

Senyum Jokowi bisa banyak arti, yang membuat lawannya semakin tidak mengerti. Jokowi bukan Ahok yang spontan. Ia bisa menyimpan begitu banyak strategi dibalik lebarnya senyuman..

Ibarat bidak catur, Jokowi bukan raja, yang bisa melangkah kemana saja tapi hanya bisa satu langkah. Ia juga bukan benteng gagah perkasa tapi jalannya hanya bisa lurus saja. Bukan juga menteri yang wilayah serangannya luas, tapi terhalang pagar pion yang berdiri membatas.

Jokowi itu kuda, yang langkahnya bisa kemana saja tanpa ada bidak yang bisa mencegah. Langkahnya bisa ribuan kemungkinan, tapi yang pasti ia setahap demi setahap memojokkan. Dan tanpa disadari, raja lawan terkapar pelan2 tanpa sadar bahwa ia terancam..

Ketika Jokowi merapat, berarti ada yang mau disikat. Dia bisa pakai tangan siapa saja tanpa ada yang sadar bahwa ia terlibat. Jokowi orang yang paham bagaimana mengatur bidak, membangun serangan tanpa lawan curiga bahwa ia sedang ditembak.

Bahkan Jokowi sangat mampu bersikap seperti orang yang mengorbankan diri. Pada akhirnya kemenangan ditentukan oleh siapa yang terakhir berdiri. Dan itu ciri khas Jokowi, gaya orang Solo yang mandiri..

Saran saya, jangan lengah. Curigalah ketika Jokowi senyum ceria, menjabat lengan bahkan tertawa renyah. Ia sedang mengukur seberapa kuat barisan kalian berada..

Ini nasihat supaya kalian jangan panik. Karena panik akan membuat otak tidak rasional, keringat dingin membuncah keluar dan tangan gemetar. Terima saja kekalahan kalian nanti dengan nikmat dan tanpa sadar..

Sudah ya, saya minum.kopi dulu. Menikmati catur Jokowi yang saya nikmati sejak lalu. Mengamati langkah-langkahnya yang seperti belati, menikam tanpa rasa sakit tapi merusak organ sampai mati..

Seruput dulu, ya akhi...