Rabu, 25 April 2018

Perang Ideologi Para Sutradara Muda

Film
Film Lima

Beberapa waktu lalu saya diundang oleh sineas muda, Lola Amaria. Saya diminta nonton preview filmnya, berjudul Lima. Film garapan 5 sutradara ini bercerita tentang perbedaan pandangan dalam agama dan ras dan diskriminasi didalamnya. (Nanti kita bahas lebih lengkap tentang film ini).

Saya juga bertemu dengan sutradara film Ridho Ainun, yang sedang menggarap film berjudul "Jack". Film dengan gaya Suroboyoan ini juga bercerita hal yang sama tentang perbedaan dalam beragama dan ras. Trailernya baru muncul Jumat ini, kita bahas juga lebih lengkap nanti.

Apa yang menarik dari kedua film ini ?

Dalam perbincangan dengan sutradara2 muda ini, saya melihat ada kegelisahan dari mereka melihat situasi Indonesia belakangan ini. Kegelisahan mereka berawal dari Pilgub DKI yang penuh dengan nuansa SARA dan berkembangnya kelompok radikalis berbaju agama yang suka memaksakan kehendaknya.

Dan sineas-sineas muda ini bangkit "melawan" dengan karya-karya mereka. Mereka menyisipkan pesan kebhinekaan dalam sebuah cerita. Bagaimana perbedaan itu adalah hal yang biasa kita temui dalam kehidupan sehari dan bukan masalah..

Inilah kebangkitan "silent majority" dimana orang2 muda mulai bersuara bukan melalui media sosial, tetapi melalui karya. Kegelisahan mereka tuangkan dalam bahasa mereka. Mereka melakukan "syiar" dengan memanfaatkan teknologi terkini.

Mereka berperang dengan senjata yang mereka punya..

Tahun 2018 ini kita akan menyaksikan perang ideologi melalui sinema antara kelompok yang membawa nama agama dan kelompok yang menyukai konsep bhinneka.

Kebetulan di bulan Mei ini juga akan keluar film berjudul "The Power of Love" yang menggambarkan aksi 212, dibintangi Fauzi Baadillah. Ada nuansa propaganda yang sedang dilawan dengan propaganda juga.

Fight fire with fire..

Jujur saya bersyukur bahwa ada kaum-kaum muda yang sudah tergerak dan perduli dengan situasi bangsa. Mereka merogoh kocek sendiri, bergerak sendiri, sebagai bentuk perjuangan dengan kemampuan yang mereka bisa..

Dan ini seharusnya menjadi perhatian pemerintah, bagaimana bhinneka tunggal ika bukan lagi diteriakkan dalam upacara bendera, tetapi sudah masuk dalam pesan-pesan bagi generasi muda supaya mereka tidak diracuni dalam dakwah-dakwah untuk mendirikan negara yang bukan berdasar Pancasila..

Saya angkat kopi dulu untuk para petarung masa kini yang berjuang bukan lagi dengan bambu runcing dan senjata api, tetapi melalui rumah-rumah produksi..

Seruput.