Kamis, 26 April 2018

THE ART OF WAR


Politik
Jokowi
Banyak teman dalam memandang politik itu sangat hitam putih. Kalau tidak disana, ya pasti disini..

Padahal politik itu sejatinya seni. Seni yang bukan saja tentang bagaimana memenangkan pertarungan tapi juga bagaimana bisa menjatuhkan lawan tanpa ia sadari.

Dalam politik itu ada yang namanya gertakan, pengalihan sampai diplomasi. Disana biasanya mereka bermain dengan simbol-simbol yang pada akhirnya menjadi sebuah simpul yang akan dimengerti.

Dalam kancah perpolitikan Indonesia, baru seni politik Jokowi inilah yang saya kagumi. Pertama, ia bersih. Sehingga langkah politiknya sudah pasti bukan karena ia licik, tapi karena ia mengambil jalan yang terbaik.

Kedua, mainnya sangat halus sehingga sulit terbaca arah dan gerakannya, mau kemana dia. Ciri khas Jokowi sejak lama, ia senang terlihat tampak tak berdaya tapi sesungguhnya ia sedang berdansa.

Saya ingat dulu ketika menulis "Dia orang Solo.." menjawab banyak keraguan mereka yang merasa salah pilih karena Jokowi terlihat penuh kelemahan. Dan terbukti bahwa Jokowi tidak pernah ragu dalam bertindak, dia hanya perlu waktu untuk berfikir sejenak dan mengambil jalan yang memutar.

Jadi ketika banyak orang bilang bahwa Jokowi berkompromi ketika menemui gerombolan si berat bernomor dada 212, saya tersenyum lebar. Ah, kamu terlalu naif, teman..

Jika Jokowi berkompromi dengan kelompok garis keras, tentu dia tidak akan pernah membubarkan HTI. Secara HTI itu mengklaim pengikutnya ada 2-3 jutaan. Tentu kerugian buat Jokowi karena suara sebesar itu hilang. Dengan HTI saja tidak kompromi, apalagi dengan pria2 berpiyama ini..

Tapi, itulah Jokowi. Dia lebih menakutkan ketika merangkul seseorang daripada ketika dia tidak memperhatikan. Dia menari memainkan persepsi sehingga lawan bingung dan saling curiga ini arahnya kemana. Dan ketika mereka sudah terpecah belah, Jokowi masuk dan menguasai barisan..

Seni berpolitik yang anggun ini jarang dimiliki banyak politisi di Indonesia yang cenderung bermain kasar dan tidak elegan.

Jokowi memainkan langkah-langkah baru dalam perpolitikan di Indonesia dengan standard yang tinggi yang tidak semua bisa mencapainya. Ia Donnie Yen dalam seni pertarungan dan Bobbie Fischer dalam percaturan.

Golkar, Perindo, PPP dan banyak kelompok lain yang sudah merasakan kehalusannya bergeraklah yang bisa bercerita. Bagaimana Idrus Marham yang dulu sering menjelekkannya sekarang pasang badan

Mungkin saja satu waktu Fadli Zon dan Fahri Hamzah berbalik menjadikannya dewa. Jokowi memang ga ade matinye, begitu kate orang Betawi di warung kopi.

Sampai sekarang negeri ini masih aman, kita masih bisa upload status di fesbuk dengan riang, itu karena Jokowi mampu mengatur ritme pertarungannya. Contoh di aksi 411 dulu, jika Jokowi gampang main tangan, peristiwa 98 akan kembali terulang.

Kita melihat aksi akhir bukan sibuk mengkritisi prosesnya..

Saya mah senang kalau Jokowi mulai main rangkul-rangkulan. Sambil minum ngopi biasanya saya belajar membaca situasi. Lebih dari 3 tahun perjalanan Jokowi, cukuplah menjadi panduan bagaimana ia bergerak. Dan menariknya, akhirannya selalu susah ditebak..

Politik itu adalah seni kemungkinan. Kita tidak tahu apa yang terjadi sebelum dia atau kita yang mulai melangkahkan kaki. Seruput kopinya, kawan..