Rabu, 18 April 2018

Wahai Tenaga Kerja, Musuhmu Itu Bukan Aseng

Lowongan Kerja
Tenaga Kerja

Masalah lapangan kerja sejak dulu menjadi masalah klasik kita..

Ingat, antrian panjang mengular di acara-acara "Lowongan Kerja" ? Bukan hanya terjadi pada era Jokowi, bahkan era Soehartopun sudah ada. Ini karena meledaknya angka usia produktif yang tidak seimbang dengan lapangan pekerjaan yang ada.

Karena apa? Banyak faktor. Mulai pendidikan yang tidak mengandalkan ketrampilan bekerja sampai konsentrasi pembangunan yang terpusat banyak di pulau Jawa.

Jadi, jangan salahkan Jokowi saja kalau tenaga kerja kita banyak berkumpul di pabrik-pabrik sebagai buruh, bukan sebagai profesional. Mereka datang dari banyak pulau yang bertani bukan lagi pilihan karena tidak berkembang.

Toh, Jokowi sekarang juga sedang membangun pulau2 yang dulu dibilang tertinggal dengan infrastrukturnya supaya investasi bisa masuk kesana dan ekonomi menggeliat.

Tenaga kerja asing dan aseng, itu juga sejak dulu bukan sekarang ini saja. Tapi mereka tidak menjadi pekerja kasar. Memang berapa sih gaji pekerja kasar ? Kan lebih baik bayar orang Indonesia yang mau digaji UMR daripada harus datangkan tenaga kasar dari China misalnya yang gajinya bisa berlipat-lipat, belum lagi transportasi dan akomodasinya..

Jadi pahami ini dulu sebelum sebar-sebar berita tenaga kerja asing mengancam tenaga kerja Indonesia..

Lagian musuh tenaga kerja itu sekarang bukan asing dan aseng..

Musuh terbesar pekerja sekarang ini adalah teknologi. Teknologi yang bisa menggantikan tenaga manusia. Coba perhatikan, banyak Bank di Inggris yang sudah merumahkan pegawainya karena sistem Bank melalui digital sudah menjadi kebutuhan sekarang. Belum lagi robot di pabrik-pabrik yang jelas lebih murah daripada pekerja yang kerjanya demo dan menuntut saja..

Bayangkan restoran sekelas McDonald. Satu waktu, mereka akan mengganti banyak tenaga kerjanya dengan mesin karena lebih efisien. Kalau sudah begitu mau apa ?

Masih mending era internet ini juga menciptakan lapangan kerja baru. Sebagai contoh, Gojek dan Grab yang membuka ribuan lapangan kerja. Tapi itupun tidak bisa menjadi gantungan, karena mereka juga akan dengan mudah mengganti driver karena ketatnya kompetisi diantara para driver sendiri..

Saya sendiri dari dulu menolak berpanas-panas antri hanya untuk mendapatkan pekerjaan. Saya tidak ingin berakhir menjadi mesin dari sebuah industri raksasa, dimana ketika saya tidak terpakai lagi akan dibuang seenaknya. Wiraswasta adalah pilihan sejak kecil, supaya tua nanti saya tetap berguna..

Banyak fasilitas buat wirausaha sekarang. Mulai bukalapak, tokopedia bahkan Baboo yang saya ciptakan juga membuka ruang pekerja kreatif..

Kalau kamu sudah mendapat hasil dari berdagang, ngapain juga takut sama pekerja asing yang notabene hanya datang sebagai profesional. Katanya mengikuti sunnah Nabi Muhammad saw, ya ikuti cara beliau berdagang. Katanya cuman takut sama Tuhan, eh ini sama pekerja asing kok sudah gemetar.

Mulailah wirausaha, apa saja. Manfaatkan teknologi yang ada jangan cuman dipake share hoax aja. Dirimu itu berharga, gak usah ikut antri panas2an hanya untuk bersaing dengan sekian ribu orang berebut satu lowongan pekerjaan, yang gajinya saja gak cukup untuk makan sebulan..

Musuhmu itu teknologi. Dekati dia dan jadikan kawan..

Seruput?