Rabu, 16 Mei 2018

BENARKAH POLISI KECOLONGAN?

Terorisme
Kami Bersama Polri

Saya menemukan tulisan seseorang yang mempertanyakan kinerja BIN dan Densus 88 karena "kecolongan" rentetan bom di Surabaya..

Saya sebaliknya, justru mengapresiasi kinerja aparat dalam memburu para teroris ini.

Seandainya yang menulis tahu, betapa besarnya bom yang meledak di Bali tahun 2002 lalu. Bom Bali pertama menewaskan lebih dari 200 orang. Itulah kemenangan teroris terbesar di negeri ini.

Bom Bali kedua di tahun 2005, menewaskan lebih dari 20 orang dan hampir 200 orang luka2. Sedangkan Bom di hotel JW Marriot di Jakarta tahun 2003, menewaskan 12 orang dan ratusan luka. Tahun 2009, bom meledak lagi di hotel JW Marriot dan Ritz Carlton Jakarta menewaskan 9 orang.

Jika melihat rekam jejaknya, terlihat bahwa aparat kepolisian dan intelijen sudah berhasil meminimalisir ledakan bom di Indonesia. Perburuan anggota2 teroris dimana2 - termasuk pengetatan pengawasan material pembuat bom - membuat teroris sudah sulit untuk kembali membuat bom berukuran besar.

Banyak peristiwa dimana Densus 88 berhasil membekuk para calon bomber di daerah2, hanya beritanya kurang maksimal. Bahkan pasca pemboman di Surabaya, Densus kembali menembak mati 4 orang teroris dan menyita puluhan bom yang siap diledakkan di Surabaya.

Hanya memang, sel-sel teroris ini sudah menyebar secara luas sejak lama. Tidak adanya kewenangan aparat untuk melakukan pencegahan karena terganjal UU, membuat aparat selain harus berhadapan dengan teroris, juga harus berhadapan dengan kelompok elit yang selalu berteriak HAM.

Terjadinya rentetan bom bunuh diri di Surabaya, menunjukkan bahwa sel tidur teroris jauh lebih banyak dari jumlah anggota kepolisian. Karena itu diperlukan operasi gabungan TNI dan Polri untuk mulai menyisir calon2 bomber yang sudah siap meledakkan negeri ini.

Dan lagi, melihat bahwa pelaku bom ini adalah satu anggota keluarga - yang di Sidoarjo juga - bisa disimpulkan, sekarang sudah sulit mencari "pengantin" bom secara individu. Jadi mencuci otak satu keluarga, bisa dianggap efektif untuk menyebarkan bom di beberapa titik sekaligus.

Kenapa aksi bom di Surabaya, meski beruntun tapi tidak menimbulkan korban yang lebih besar ?

Karena teroris sudah mulai panik. Mereka diburu dimana2, sehingga harus sesegera mungkin meledakkan diri meski tanpa perencanaan yang matang seperti dulu yang dilakukan Imam Samudra, otak bom Bali pertama atau Dr Azahari.

Aksi sporadis menunjukkan bahwa sudah sulit teroris berkoordinasi secara intens dan terpimpin. Akhirnya yang mereka lakukan hanya menunjuk sembarang target dan meledakkan diri disana.

Bahkan saking sulitnya mencari bahan pembuat bom, para teroris mengunakan senjata apa saja untuk melakukan aksinya.

Yang terbaru di Mapolda Riau, beberapa orang teroris menyerang polisi hanya dengan Samurai.

Tidak ada hasil kerja yang sempurna, tetapi minimal aparat kita sudah mampu mencegah negeri ini seperti Irak dan Afghanistan, yang hampir setiap bulan ada 2-3 kali bom bunuh diri di Mall dan Pasar, yang membawa korban jiwa jauh lebih besar..

Bahkan AS dan Inggris ingin belajar penanganan terorisme di Indonesia. Karena menurut mereka, Indonesia seharusnya sejak lama bisa seperti Irak, Suriah dan Afghanistan, tapi ternyata Indonesia mampu menangani negeri ini dengan sebaik2nya..

Karena itu, kita dukung kinerja aparat Kepolisian, TNI, BIN dan Densus 88, karena tanpa kerja mereka yang melelahkan, mungkin bapak kita, ibu kita, anak2 kita, saudara kita, teman kita, atau bahkan kita sendiri, sekarang sudah menjadi korban bom dari teroris.

Bersyukur jauh lebih baik daripada sibuk menyerang kinerja lembaga yang sudah bekerja sangat keras untuk menjaga kita semua. Dan berterimakasih pada mereka adalah tingkat rasa syukur kita masih selamat dari ancaman yang sangat nyata..

Seruput kopinya dulu, Polri dan semua yang bekerja keras melindungi kami.