Senin, 14 Mei 2018

Kita Masih Terbiasa Mengobati Daripada Mencegah Terorisme

Polri
Jokowi, Kapolri dan Panglima TNI tinjau Lokasi Bom Surabaya

Permasalahan aksi terorisme di Indonesia ini sudah sejak lama sebenarnya. Masalahnya adalah kita hanya selalu bertumpu pada aparat untuk menyelesaikan semua persoalan yang ada. Padahal aksi teroris ini akan banyak teredam jika banyak elemen terlibat dalam pencegahannya.

Aksi teroris dipicu oleh pernyataan-pernyataan provokatif dan ajakan-ajakan untuk melakukan aksi dengan sebelumnya terlebih dahulu mengajarkan bagaimana cara melakukan kerusakan. Sesudah itu, bagaimana cara menyebarkan pesan kerusakan sehingga menimbulkan ketakutan.

Dan kunci dari itu semua adalah media komunikasi..

Media-media komunikasi dan chatting seperti Telegram, WhatsApp, Facebook, Twitter dan lain-lain adalah jaringan komunikasi global para teroris untuk saling bersapa dan melakukan proses cuci otak.

Pemerintah melalui Kominfo seharusnya sejak awal bisa bekerjasama dengan pemilik aplikasi-aplikasi luar ini. Jangan rakyat hanya dijadikan konsumen saja, tapi juga keamanannya benar-benar dilindungi. Sementara ini Menkominfo masih maen gertak, belum benar-benar serius untuk menangani lubang-lubang ini.

Meski pintu masuk teroris dari luar bisa dibatasi, tapi ideologi-ideologi teroris global masih berkeliaran dengan bebas lewat internet ini.

Elemen lain adalah stasiun televisi..

Stasiun televisi seharusnya mulai membersihkan diri dari produser-produser acara agamanya yang terindikasi garis keras.

Televisi punya tanggung jawab sangat besar dalam mengobarkan semangat "merusak atas nama agama" karena mempopulerkan ustad-ustad yang sangat provokatif. Ada ustad yang berdakwah Indonesia negara taghut, ada yang membenarkan aksi bunuh diri.

Dan bahayanya acara ceramah agama di televisi adalah dia bisa menjangkau daerah-daerah yang tidak bisa dijangkau internet, sehingga informasi bersifat sepihak.

Jadi stasiun televisi adalah media efektif untuk mencuci otak masyarakat di daerah-daerah. Ditambah dengan pengetahuan agama penceramah yang sangat terbatas sehingga fatwa yang keluarpun instan pula.

Pemerintah harus menekan stasiun televisi untuk melibatkan dua ormas besar agama yaitu NU dan Muhammadiyah dalam acara ceramah agama.

Dan dalam ceramah harus ada penekanan nilai-nilai Pancasila dan kecintaan pada negara. Kalau perlu, khusus acara agama Islam, harus ada unit khusus yang melakukan filter terhadap pengisi acara..

Jangan dibiarkan hanya mereka yang punya uang yang bisa ada di slot acara. Dana teroris itu besar, mereka sanggup membeli seluruh slot acara agama di televisi untuk menggencarkan propaganda dan program cuci otak mereka.

Dan terakhir adalah elemen masyarakat melalui kelurahan, RT dan RW untuk terus mendata warganya dan menjaga masjid di daerahnya dari ujaran-ujaran kebencian dan provokatif. Kepolisian dibantu TNI harus kembali aktif mengedukasi masyarakat dan sama-sama menjaga wilayahnya dari segala kemungkinan tindak terorisme.

Jika tindakan-tindakan ini dilakukan, maka aksi-aksi teror akan teredam. Karena mereka tidak bisa berinteraksi satu sama lain, bahkan tidak bisa mencuci otak orang awam yang ingin belajar agama. Tugas aparatpun akan lebih ringan..

Orang bilang, mencegah lebih baik daripada mengobati. Tapi kita sampai sekarang terus menerus mengobati, karena tidak paham bagaimana mencegahnya..

Semoga kedepan kita bisa lebih baik. Dan jadikan kota Surabaya sebagai ikon perlawanan terhadap terorisme. Karena sesungguhnya Surabaya adalah kota Pahlawan. Seruputtt.