Jumat, 11 Mei 2018

MEMBENCI JOKOWI

Joko Widodo
Presiden Jokowi

Kenapa kebanyakan pendukung teroris adalah pembenci Jokowi? Tidak perlu survey untuk ini. Perhatikan saja komen-komen yang muncul maupun status yang dibuat pada saat kerusuhan Mako Brimob berlangsung. Rata-rata mereka yang menganggap bahwa kerusuhan di Mako itu adalah settingan, selalu ada postingan #2019GantiPresiden di status mereka.

Bahkan di grup-grup WA, teman-teman kecil saya dulu yang notabene adalah pembenci Jokowi sejak pilpres, turut menyuarakan bahwa kerusuhan Mako Brimob adalah bagian dari pengalihan isu karena lemahnya rupiah terhadap dollar AS. Mereka jangankan berempati kepada keluarga korban polisi, bahkan mereka membangun teori konspirasinya sendiri..

Sebenarnya mudah jawabannya, meski akan banyak yang menyangkalnya..

Kebencian kepada Jokowi dipicu karena tidak berkuasanya Prabowo. Prabowo bagi mereka adalah inang yang sempurna untuk berkembang biaknya virus ideologi yang sudah mereka tanam di negeri ini sejak lama. Ketika Jokowi memimpin, maka sesaklah dada mereka..

Jokowi menumpas terorisme di Indonesia mulai dari akar pertumbuhannya, yaitu pendanaan.

Kelompok garis keras ini merasakan lesu darah ketika Jokowi menyetop dana bantuan sosial - bansos - dan dana hibah untuk mereka.

Dana bansos dan hibah yang selama ini dinikmati ormas-ormas dan LSM fiktif, dialihkan ke hal yang lebih berguna. Penghentian dana bansos ini dimulai sejak Jokowi menjadi Gubernur Jakarta dan diteruskan oleh Ahok. Ketika Jokowi menjadi Presiden, ormas-ormas yang mengajukan proposal pendanaan semakin kering dapurnya dan itu menghalangi mereka untuk menyebarkan ideologinya.

Kemudian Jokowi mengeluarkan Perppu pembubaran HTI. Maka semakin meradanglah mereka. Kemarahan kelompok garis keras ini bukan karena mereka punya ikatan kuat dengan HTI, tapi karena ketakutan bahwa mereka akan menjadi sasaran berikutnya. Hanya pada masa Jokowi inilah, agenda-agenda besar mereka untuk menjadikan Indonesia sebagai negeri khilafah, berhenti.

Ditambah PKS yang sudah tidak bisa "bisnis" di kursi pemerintahan lagi. Lihat saja ketika PKS dulu ada di pemerintahan, semua jadi terlihat aman tentram dan sentosa, meski mereka sebenarnya menggerogoti dari dalam.

Itulah kenapa Jokowi dijadikan mereka sebagai "musuh bersama". Pada masa SBY kelompok garis keras ini berkembang dengan cepat menguasai masjid dan majelis taklim, karena memang difasilitasi dan dibiarkan berkembang.

Jadi, buat saya, membela Jokowi bukan karena membela sosok yang nafsu berkuasa. Tetapi membela utuhnya negeri ini karena jika kelompok garis keras ini kukunya dibiarkan mencengkeram terlalu dalam, satu waktu habislah kita.

Jika musuh kelompok garis keras ini adalah Jokowi, maka saya akan berpihak pada lawan mereka. Jadi sudah pasti saya akan dibenci juga oleh mereka.

Sesederhana itu sebenarnya. Seperti sederhananya secangkir kopi yang selalu ada tersedia di atas meja.