Sabtu, 05 Mei 2018

MEMBUNUH JOKOWI

Joko Widodo
Ahok dan Jokowi

Belajar dari Pilgub DKI..

Perkembangan Jakarta ditangan Ahok melaju pesat. Ia membangun banyak hal di Jakarta, mulai jalan layang, transportasi massal sampai rusun murah. Ahok bahkan memaksimalkan kerja aparat.

Dan prestasi terbesarnya adalah membuka pintu balaikota selebar2nya supaya rakyat bisa langsung mengadukan masalahnya.

Seketika rakyat Jakarta jatuh cinta pada sosok Ahok. Elektabilitas dia langsung melejit. Dia menjadi tidak terkalahkan dalam survey2 karena hasil kerjanya nyata dan tampak oleh mata.

Dan ini menjadi masalah buat oposisi. Tidak mungkin mengalahkan Ahok lewat prestasi.

Jalan satu2nya adalah membunuh karakter Ahok. Ras Ahok diungkit. Agamanya dikait. Dan yang paling ditunggu, sifat pemarahnya yang menjadi sasaran utama.

Lalu terjadilah peristiwa Al maidah. Saat peristiwa ini, Ahok dihajar habis, dikuliti sampai ke tulang sumsumnya. Ia akhirnya kalah.

Apapun prestasinya, hanya karena nila setitik, rusaklah susu sebelanga..

Situasi yang sama sedang dibangun untuk Jokowi sekarang ini..

Peristiwa SP3 Rizieq Shihab, adalah senjata yang bagus untuk terus menggerus suara Jokowi. Ia dibunuh karakternya. "Jokowi lemah", "Jokowi mengalah pada kelompok 212" adalah narasi yang dibangun untuk terus menguliti elektabilitas Jokowi.

Suara ini akan terus digaungkan di kelompok pendukung Jokowi sampai mereka nantinya akan kehilangan kepercayaan. Semua prestasi Jokowi membangun infrastruktur besar2an akan dihabiskan oleh satu isu besar.

Yang diharapkan bukan pendukung Jokowi akan berpindah haluan, tapi mereka menyatakan Golput karena tidak puas dengan "hukum yang tidak ditegakkan".

Inilah narasi besar yang diciptakan. Disatu sisi, pihak oposisi akan terus mendekat kepada Jokowi, seolah berteman dengannya, berterimakasih padanya, padahal mereka sedang membangun persepsi, "Tuhh.. Jokowi ternyata lemah loh penegakan hukumnya.."

Pihak oposisi paham benar bahwa pendukung Jokowi sangat tidak suka dengan kelompok 212. Dan menempelkan 212 ke Jokowi dengan framing bahwa Jokowi akan bekerjasama dengan mereka, membuat ketidak-sukaan itu sekarang menempel kepadanya.

Bunuh karakter Jokowi. "Dia boleh hebat dalam pembangunan infrastruktur dan ekonomi. Tapi lemah dalam penegakan hukum, buat apa ? Mending pilih yang lainnya". Begitulah kira-kira narasi besarnya.

Sementara itu, disatu tempat tersembunyi, pihak oposisi sedang membangun POROS KETIGA. Tagar #GantiPresiden akan dirubah menjadi sebuah nama. Nama yang lebih diterima oleh mereka yang tidak suka pada Prabowo dan kecewa pada Jokowi.

Kekalahan Ahok sejatinya bukan karena kuatnya lawannya, tetapi kelemahan pendukungnya. Mereka yang dulu memuji2 kinerja Ahok setinggi langit, bisa berubah arah lari karena ketakutan akan framing "kalau Ahok terpilih, Jakarta bisa seperti 1998 lagi".

Hanya dengan satu isu "penista agama", prestasi2 Ahok langsung runtuh dan hilang seketika dalam pikiran mereka..

Apakah hal yang sama akan terjadi pada Jokowi dengan isu "Jokowi lemah" sehingga mereka berharap akan muncul seseorang yang "kuat"?

Kita perhatikan sambil seruput secangkir kopi hitam..